Rupiah Melemah Bikin Tarif Hotel di Bali Naik 8%, Pendapatan per Kamar Tumbuh 3%

Kinerja bisnis perhotelan di Bali mencatatkan kenaikan pada kuartal II 2026, di tengah pelemahan nilai tukar mata uang rupiah.
Vice President, Investment Sales Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific, Irina Chadsey, mengatakan pulau Bali kini mencatatkan sekitar 3,2 juta kedatangan wisatawan mancanegara pada semester pertama tahun 2026.
“Angka tersebut menunjukkan sedikit penurunan sekitar 2,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ucap Irina dalam gelaran media briefing di Kantor JLL Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).
Berbarengan dengan itu, Irina menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi selama beberapa bulan terakhir dimanfaatkan oleh pihak hotel untuk menaikkan tarif, sehingga tarif kamar rata-rata atau Average Daily Rate (ADR) tercatat meningkat sekitar 8 persen secara tahunan (yoy).
“Nilai tukar mata uang yang cenderung melemah dimanfaatkan oleh pihak hotel untuk mengerek tarif, sehingga tarif kamar rata-rata mengalami kenaikan sekitar 8 persen secara tahunan,” lanjut.
Menurut Irina, kenaikan ADR tersebut dinilai lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan tingkat keterisian kamar atau okupansi.
“Kenaikan ADR ini lebih dari cukup untuk menutup penurunan tingkat keterisian kamar, di mana pendapatan per kamar yang tersedia masih mampu tumbuh sekitar 3 persen yoy,” tutur Irina.
Dari sisi pasokan, JLL mencatat Bali saat ini memiliki sekitar 49.000 kamar, sementara tambahan pasokan pada kuartal kedua masih tergolong terbatas. Hanya terdapat satu pembukaan hotel baru di Uluwatu, yakni Umi Resort dengan 22 kamar.
“Sehingga total proyeksi pasokan kamar baru hingga tahun 2028 berada di angka sekitar 3.300 kamar,” ucapnya.
Sementara itu, Irina mencatat Jakarta menyambut sekitar 1,3 juta wisatawan mancanegara pada semester pertama 2026, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 7 persen tot. Pertumbuhan tersebut disebut didorong oleh membaiknya permintaan dari segmen korporasi. Wisatawan domestik juga disebut masih menjadi tulang punggung pasar dengan kontribusi sekitar 98 persen dari total kunjungan.
Dari sisi pasokan, belum terdapat hotel baru yang rampung pada kuartal kedua tahun ini, sehingga jumlah pasokan hotel di Jakarta masih berada di kisaran 59.600 kamar.
“Adapun total pipeline pasokan baru diperkirakan berada di kisaran 2.800 kamar dan diharapkan mulai terealisasi pada rentang tahun 2026 hingga 2028,” sebut Irina.
Pada semester kedua tahun ini, sejumlah pembukaan hotel baru diperkirakan akan berlangsung di Jakarta Barat dan kawasan pusat bisnis (CBD). Dari sisi kinerja, tingkat okupansi disebut relatif stabil dengan perubahan tipis sekitar 0,7 poin persentase secara tahunan.
Sementara itu, ADR perhotelan Jakarta berhasil tumbuh mendekati 7 persen, yang juga didukung oleh faktor nilai tukar mata uang.
“Sehingga RevPAR naik sekitar 5,4 pesen hingga Juni. Menatap ke depan, prospek pasar Jakarta diyakini bakal terus menguat seiring dorongan momentum MICE, investasi infrastruktur dari pemerintah yang mulai terasa dampaknya, serta peningkatan kinerja sektor hospitality secara umum,” imbuh Irina.
Sementara itu, pasar transaksi hotel di kawasan Asia-Pasifik disebut masih tergolong terbatas pada semester pertama 2026, melanjutkan tren yang telah terlihat sejak kuartal pertama. Volume transaksi regional pada semester pertama tahun ini tercatat sekitar USD 163 juta, turun dibandingkan USD 424 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut sebagian besar disebut dipengaruhi oleh tingginya aktivitas transaksi di Thailand pada semester pertama 2025.
“Sebaliknya, Malaysia justru mencatatkan peningkatan aktivitas dengan merampungkan dua kesepakatan transaksi pada kuartal ini, yang menunjukkan daya tarik pasarnya,” jelas Irina.
