Rupiah Melemah, Kementerian ESDM Percepat Produksi Energi Domestik
·waktu baca 2 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mendorong peningkatan produksi energi dalam negeri di tengah pelemahan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Jumat (5/6) pukul 14.42 ada di Rp 18.041 per dolar AS.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan langkah itu bertujuan mengurangi kebergantungan pada impor, sekaligus meredam dampak fluktuasi kurs terhadap sektor energi.
“Kita kan berusaha untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Jadi pagi ini sampai, ya mungkin agak siangan nanti, ya kita berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri,” kata Yuliot kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).
Yuliot mengatakan salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong peningkatan produksi migas melalui penerapan teknologi unconventional pada wilayah kerja yang memiliki cadangan potensial berdasarkan hasil survei geologi. Saat ini, wilayah kerja yang dinilai paling memungkinkan untuk pengembangan tersebut adalah Blok Rokan.
“Jadi sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan unconventional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan,” ujar Yuliot.
Yuliot mencontohkan pengalaman Amerika Serikat (AS) yang berhasil meningkatkan produksi migas melalui penerapan teknologi nonkonvensional ketika produksi konvensional mengalami penurunan.
“Jadi sehingga pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus untuk produksi migasnya sendiri. Jadi sehingga Amerika melakukan kegiatan ekspor,” ungkap Yuliot.
Yuliot menuturkan pemerintah telah menerima tawaran sejumlah teknologi pengembangan migas nonkonvensional dan telah mempertemukannya dengan SKK Migas. Saat ini, SKK Migas menargetkan kerangka regulasi untuk pengembangan tersebut dapat diselesaikan pada akhir Juni dan mulai diimplementasikan pada awal Juli.
“Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi import, dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” tutur Yuliot.
