Kumparan Logo

Rupiah Melemah Tembus Rp 18 Ribu per Dolar AS, Bank Indonesia Ungkap Pemicunya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi logo Bank Indonesia. Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi logo Bank Indonesia. Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9). Berdasarkan data Bloomberg pukul 11.06 WIB, rupiah turun 36 poin atau 0,20 persen dan menembus level Rp 18.014 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.

Tekanan tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD 108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun ke level 5,23 persen, yang merupakan level tertinggi sejak 2007.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III. Arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets juga turut memberikan tekanan di tengah kenaikan yield obligasi.

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

BI menyatakan akan terus melakukan stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamentalnya. Bank sentral juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” kata Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (29/9).

Stabilisasi nilai tukar ity diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas. BI meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri.

Intervensi di pasar valas akan dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen. BI menggunakan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Di sisi lain, BI terus berkoordinasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Erwin menyebut secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (qtd) tercatat terbatas sebesar 0,67 persen.

Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Indonesia juga meningkat. Posisi cadangan devisa tercatat sebesar USD 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.