Kumparan Logo

Rupiah Menguat, BI Andalkan Intervensi Berlapis hingga Tambah Pasokan Valas

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur BI, Perry Warjiyo saat menyampaikan media briefing Kamis (2/4) melalui siaran live streaming. Foto: Dok. BI
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur BI, Perry Warjiyo saat menyampaikan media briefing Kamis (2/4) melalui siaran live streaming. Foto: Dok. BI

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penguatan tipis sepanjang Juni 2025, seiring dengan kombinasi intervensi kebijakan dan pasokan valuta asing (valas) dari pelaku pasar domestik maupun asing.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, penguatan rupiah didorong oleh stabilisasi aktif yang dilakukan otoritas moneter dan meningkatnya konversi valas ke rupiah, khususnya dari eksportir.

“Nilai tukar rupiah menguat didukung kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan peningkatan pasokan valas oleh residen dan nonresiden,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (18/6).

Secara bulanan, per 17 Juni 2025, rupiah tercatat menguat sebesar 0,06 persen (point-to-point) dibandingkan posisi akhir Mei. Selain terhadap dolar AS, penguatan juga tercatat terhadap mata uang negara berkembang mitra dagang utama dan kelompok mata uang negara maju non-dolar.

Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Aliran modal asing, terutama yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN), turut memberi sentimen positif terhadap kurs. Pasokan valas oleh korporasi dalam negeri juga meningkat, didorong oleh kebijakan penguatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang mulai berdampak nyata terhadap pasar.

“Penguatan rupiah juga terjadi terhadap kelompok mata uang negara berkembang mitra dagang utama Indonesia dan kelompok mata uang negara maju di luar dolar AS,” ujar Perry.

Ke depan, BI memperkirakan nilai tukar rupiah tetap akan stabil, ditopang oleh beberapa faktor fundamental. Misalnya inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, serta imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik bagi investor global.

“Nilai tukar rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” tutur Perry.

Untuk menjaga kestabilan kurs di tengah gejolak global, BI memperkuat bauran kebijakan termasuk melalui strategi triple intervention, intervensi langsung di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Bank Indonesia terus memperkuat respons kebijakan stabilisasi, termasuk intervensi terukur di pasar off-shore NDF dan strategi triple intervention pada transaksi spot, DNDF, dan SBN di pasar sekunder," tegasnya.

Selain itu, BI juga mengandalkan optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas BI (SVBI), dan Sukuk Valas BI (SUVBI). Ketiganya menjadi bagian dari strategi operasi moneter pro-market untuk menarik investasi portofolio asing dan memperkuat efektivitas kebijakan nilai tukar.