Rupiah Perkasa, Investor Asing Lepas USD 4,3 Miliar di November 2018

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat. Rupiah berhasil keluar dari level terendahnya yang mencapai Rp 15.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Reuters sore hari ini, dolar AS berada di kisaran Rp 14.235, menguat dibandingkan pembukaan pagi tadi yang mencapai Rp 14.290.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya suplai valas di Tanah Air. Saat ini, suplai valas dari investor asing dan eksportir tersebut mencapai USD 677 juta. Meskipun masih lebih rendah, namun pasokan valas tersebut mampu menutup kebutuhan valas importir yang mencapai USD 740 juta.
"Besarnya arus modal portofolio asing tersebut juga tercermin dari suplai pihak asing di pasar valas, yang menambah suplai valas dari eksportir yang mencapai USD 677 juta. Pasokan valas dari investor asing dan eksportir dapat menutup kebutuhan valas importir yang mencapai USD 740 juta," ujar Nanang kepada kumparan, Senin (3/12).

Nanang melanjutkan, selama November 2018 pasokan valas dari investor asing tersebut merupakan terbesar selama tahun ini, yaitu mencapai USD 4,3 miliar. Angka ini melebihi kebutuhan valas korporasi domestik selama November 2018 yang mencapai USD 2,3 miliar.
"November 2018 pasokan valas dari investor asing merupakan terbesar selama 2018 yaitu mencapai USD 4,3 miliar, lebih besar dari kebutuhan valas korpoasi domestik," jelasnya.
Lebih lanjut Nanang menuturkan, penguatan rupiah ini juga masih ditopang oleh derasnya arus modal asing yang masuk ke domestik. Sejak awal November 2018, aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 35 triliun, meningkat dari periode Oktober 2018 yang hanya mencapai Rp 15,1 triliun.
"Pada November 2018 inflows ke SBN mencapai Rp 35 triliun naik dari Rp 15,1 triliun di bulan Oktober 2018," katanya.

Selain itu, penguatan rupiah tersebut disertai dengan turunnya imbal hasil (yield) SBN ke level 7,8 persen. Padahal selama bulan lalu yield sempat menyentuh 10 persen.
Menurut dia, potensi masuknya arus modal asing ke pasar SBN juga masih cukup besar. Sebab jika dibandingkan dengan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang mencapai 3,0 persen, maka investor masih memperoleh spread 480 bps.
"Demikian pula secara real, dengan inflasi November 2018 sebesar 3,23 persen, maka nilai real dari yield yang ditawarkan oleh SBN sepuluh tahun mencapai 4,57 persen, tertinggi setelah Brasil," tambahnya.
