Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Rupiah Rp 16.732 per Dolar AS, Nyaris Sentuh Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah
3 April 2025 6:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Pada libur Lebaran kali ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru terpuruk. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (2/4) pukul 11:59 WIB, nilai tukar rupiah melemah 33,00 poin (0,20 persen) ke Rp 16.732 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
Adapun pengumuman tarif impor terbaru dari Presiden AS, Donald Trump, juga dipercaya menjadi salah satu penyebabnya.
“Pada 2 April ini Trump memastikan tarif. Jelas masih sangat berpengaruh,” kata Financial Markets Analyst dari Traderindo, Wahyu Laksono kepada kumparan, Rabu (2/4).
Mengenai kebijakan tarif impor terbaru, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan tarif timbal balik akan dikenakan pada negara-negara yang menggunakan bea masuk pada barang AS.
Besaran tarifnya pun akan diumumkan lebih lanjut oleh Trump secara langsung.
Kemudian menurut analis dari Panin Sekuritas, Felix Darmawan, pelemahan rupiah ini juga bisa mengecilkan surplus dagang kepada AS dan secara total terjadi di tengah perlambatan harga komoditas andalan seperti batu bara dan nikel.
ADVERTISEMENT
“Sebagai contoh, selama libur Lebaran 2024, rupiah tertekan akibat ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik yang mendorong arus keluar modal asing. Rupiah melemah dari Rp 15.873 per USD pada 5 April menjadi Rp 16.176 per USD saat BI kembali beroperasi pada 16 April,” ujar Felix.
Lebih lanjut, mengutip dari Reuters, rupiah tercatat telah mengalami depresiasi sebesar 3 persen terhadap dolar tahun ini, menjadikannya mata uang Asia dengan kinerja terburuk dan mendorong bank sentral untuk secara rutin melakukan intervensi di pasar guna menstabilkan penurunan tersebut.
“Sentimen sangat buruk, baik untuk ekuitas maupun rupiah,” ucap Pauline Ng, Kepala Ekuitas untuk negara-negara Asia Tenggara di JPMorgan Asset Management.
“Dengan adanya pemerintahan baru, pasar memiliki ekspektasi bahwa situasinya akan berjalan normal seperti biasa. Namun, terjadinya miskomunikasi dan sejumlah kebijakan telah menimbulkan ketidakpastian di pasar.”
ADVERTISEMENT
Kepercayaan investor terhadap Indonesia telah berkurang seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas rencana pengeluaran sosial Prabowo yang besar, pemotongan anggaran, dan pembatalan kenaikan pajak.
Program Prabowo untuk menyediakan makanan gratis bagi lebih dari seperempat penduduknya dengan anggaran sebesar 71 triliun rupiah juga diyakini telah menarik perhatian para investor.
Pasar mengkhawatirkan besarnya biaya program ini dan khawatir bahwa tambahan utang untuk pembiayaannya dapat mengganggu reputasi Indonesia yang telah dibangun dengan susah payah dalam beberapa tahun terakhir terkait kehati-hatian fiskal.
Sementara itu, peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga menimbulkan kekhawatiran akan adanya campur tangan politik, meskipun Prabowo bersikeras bahwa dana tersebut dapat diaudit kapan saja dan oleh siapa saja.
ADVERTISEMENT
Level rupiah saat ini merupakan yang terendah sejak awal tahun, bahkan setelah pandemi. Selain itu, posisi tersebut juga mendekati titik terendah selama krisis moneter 1998, ketika rupiah mencapai Rp 16.800 per dolar AS—hampir menyentuh rekor terburuk sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah sempat anjlok hingga Rp 16.741 per dolar AS pada 2 April 2020, sebelum akhirnya kembali menguat ke kisaran Rp 14.000 pada Juli 2020.