Kumparan Logo

Rupiah Tembus Rp 16.900 per Dolar AS di Tengah Perang Iran, BI Bakal Intervensi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Nilai tukar rupiah terpantau terus melemah di tengah konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran sejak pekan lalu telah berdampak signifikan bagi perekonomian.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.27 WIB, nilai tukar rupiah sudah menyentuh Rp 16.905 per dolar AS, melemah 33 poin atau 0,20 persen.

Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah seiring meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan guna meredam gejolak eksternal agar tidak berdampak lebih dalam ke pasar keuangan domestik.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan otoritas moneter akan mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi yang dimiliki.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah,” kata Destry dalam keterangan resminya, Rabu (4/2).

Menurut Destry, intervensi dilakukan secara menyeluruh baik di pasar offshore maupun domestik. BI memanfaatkan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Selain itu, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan investor.

Secara bulanan (month to date/MTD), rupiah tercatat melemah 0,51 persen. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan dan bahkan relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya.

Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap kuat di level USD 154,6 miliar. Angka tersebut dinilai memadai untuk mendukung stabilitas eksternal, termasuk pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Sementara itu, arus modal asing juga masih mencatatkan net inflow sebesar Rp 25,7 triliun sepanjang 2026. Kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan prospek ekonomi domestik di tengah tekanan global.

Destry menegaskan intervensi yang tegas dan konsisten akan terus dilakukan bank sentral melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Pelemahan rupiah masih aligned dengan regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun,” katanya.

instagram embed