Kumparan Logo

Rupiah Tembus Rp 18.043 per Dolar AS, BI Perkuat Intervensi Pasar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026).  Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6). Berdasarkan data Bloomberg pukul 11.38 WIB, rupiah melemah 76,50 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp 18.043 per dolar AS.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Menurut Destry, eskalasi geopolitik juga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, kebutuhan valas di dalam negeri masih cukup tinggi sejalan dengan periode repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN,” kata Destry kepada kumparan, Kamis (4/6).

Merespons tekanan tersebut, BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan. Bank sentral akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan guna memastikan pergerakan rupiah tetap mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,” ujarnya.

instagram embed

Destry menjelaskan intervensi dilakukan secara berkelanjutan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” tutur Destry.

Selain intervensi pasar, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara mitra, yakni Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Penggunaan skema tersebut juga terus meningkat. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT tercatat sekitar USD 22,7 miliar, mendekati realisasi sepanjang tahun lalu yang mencapai sekitar USD 25,7 miliar.

Meski rupiah melemah, BI menilai pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan. Secara year to date (YTD), rupiah tercatat terdepresiasi 7,44 persen.

Di tengah tekanan tersebut, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih terjaga. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar USD 146,2 miliar, yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.