Rupiah Terus Melemah, Begini Penjelasan Analis
·waktu baca 4 menit

Kondisi rupiah tertekan disebut usai kebijakan moneter salah satunya mengenai kebijakan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan laporan Bloomberg pada Rabu (22/9) pukul 07.07 WIB, rupiah melemah 77 poin atau 0,46 persen ke Rp 16.687 terhadap Dolar AS.
Tren pelemahan rupiah ini terjadi sejak 14 Agustus 2025, pada saat rupiah di level Rp 16.375 per Dolar AS. Tak hanya itu, analis juga menyoroti masih adanya tekanan geopolitik hingga penyesuaian pasar setelah pergeseran menteri keuangan baru.
Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menilai kebijakan pelonggaran moneter berupa penurunan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia (BI) menyebabkan efek jangka pendek terhadap rupiah.
Menurutnya, kebijakan tersebut mengakibatkan nilai rupiah cenderung melemah.
“Spread suku bunga dengan The Fed jadi makin sempit, sehingga sebagian aliran dana asing keluar dulu,” kata Felix dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/9).
Namun secara tren, Felix menyebut pelemahan rupiah kemungkinan tidak akan terlalu dalam. Hal ini disebabkan karena Indonesia memiliki beberapa faktor penopang meliputi cadangan devisa yang masih tinggi, ekspor komoditas masih relatif solid, dan BI masih aktif melakukan intervensi di pasar valas maupun Domestic Non-deliverable Forward (DNDF).
Jangka Pendek
Felix menambahkan bahwa nilai rupiah memang rentan bergerak melemah ke kisaran Rp 16.200-Rp 16.700 per Dolar AS dalam jangka pendek.
Namun, menurutnya ada potensi stabilisasi cukup besar di kuartal IV ketika The Fed mulai agresif memangkas suku bunga.
“Artinya, pelemahan sekarang lebih ke fase penyesuaian pasar, bukan tren jangka panjang,” tambahnya.
Felix menilai, rupiah masih berpotensi untuk berbalik ke arah yang lebih kuat jika arus masuk asing kembali dan confidence terhadap kebijakan fiskal 2026 makin jelas.
Sementara itu, Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan peningkatan proyeksi International Monetary Fund (IMF) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,7 persen menjadi 4,8 persen seharusnya dapat mengangkat sentimen positif terhadap rupiah.
Namun demikian, kondisi ini tidak bisa membuat mata uang rupiah mengalami penguatan.
Purbaya Effect
Selain itu, indikasi ekonomi terutama pasca pergantian menteri keuangan Sri Mulyani ke Purbaya membuat satu penyesuaian dari pelaku pasar yang dulu sempat begitu antusias dengan kebijakan-kebijakan dari Sri Mulyani. Tapi saat ini sedang sedikit mengalami penurunan.
“Kemudian di sisi lain pun juga kita melihat bahwa kebijakan-kebijakan saat ini pun juga masih belum diterima oleh pasar, apa yang dilakukan oleh Purbaya,” ujar Ibrahim.
Dari segi eksternal, Ibrahim menyebut Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga dalam pertemuan di bulan Oktober sebesar 25 basis poin.
Ia memperkirakan, hingga akhir tahun The Fed kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga mencapai 50 basis poin.
“Ini pun juga masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kenapa? Gejolak geopolitik di Eropa yang terus membara,” tambahnya.
Lebih lanjut, Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, meyakini bahwa tren pelemahan rupiah sebenarnya telah mereda. Hal tersebut terjadi terutama setelah melihat kembalinya arus masuk ke pasar saham Indonesia menyusul kebijakan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia.
Namun, di sisi lain, Myrdal masih melihat tekanan jual yang kuat dari investor global di pasar obligasi pemerintah. Para investor tersebut menuntut imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah dari negara maju pada umumnya.
Kondisi inilah yang membuat nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tetap menguat di tengah sentimen positif, baik dari dalam negeri maupun global.
Di sisi lain, Myrdal menyebut tekanan dari aktivitas perdagangan internasional justru mulai terasa pada September. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan kenaikan tarif barang ekspor ke Amerika Serikat, yang baru akan berlaku pada bulan ini.
“Namun, kami masih melihat surplus perdagangan setidaknya USD 1,87 miliar di Indonesia setiap bulannya,” ujarnya.
Meskipun demikian, Myrdal melihat adanya peluang bagi rupiah untuk menguat terhadap USD, terutama setelah pemangkasan BI Rate yang akan diperhitungkan di pasar obligasi pemerintah. Ia memperkirakan level terdekat untuk nilai USD/IDR masing-masing berada di Rp 16.513–16.746.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut bahwa secara keseluruhan nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,30 persen pada September 2025 dibandingkan Agustus 2025.
