Rupiah Terus Melemah, Pengusaha Tekan Biaya Operasional dan Batasi Ekspansi
·waktu baca 3 menit

Pelaku usaha menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian serius bagi dunia usaha karena tekanan terhadap rupiah saat ini terus berpotensi menciptakan level terendah baru atau all-time low.
Berdasarkan data Bloomberg, satu dolar AS setara Rp 17.606 pada Jumat pagi (15/5) pukul 09.35 WIB. Namun rupiah menguat 0,37 persen menjadi Rp 17.594 per dolar AS pada pukul 12.23 WIB.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas.
Dia menjelaskan, kenaikan yield US Treasury akibat kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat (AS) serta eskalasi perang geopolitik telah mendorong perpindahan aliran modal global ke aset berbasis dolar AS, sehingga berdampak pada banyak negara berkembang, seperti Indonesia.
“Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda,” kata Shinta saat dihubungi kumparan, Jumat (15/5).
Bagi dunia usaha, kondisi tersebut dipandang sebagai guncangan eksternal yang memperbesar tekanan terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah disebut secara langsung meningkatkan biaya impor, terutama karena industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Saat ini sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari luar negeri, sementara kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55 persen dari struktur biaya produksi.
“Oleh karena itu, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” tutur Shinta.
Shinta melanjutkan, sektor yang paling rentan disebut meliputi industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi yang memiliki ketergantungan impor tinggi. Contohnya, kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik disebut telah mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen dan berdampak berantai pada industri kemasan maupun sektor hilir lainnya.
“Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” ucap Shinta.
Selain dari sisi operasional, tekanan juga dirasakan pada aspek keuangan korporasi. Penguatan dolar AS disebut meningkatkan beban kewajiban perusahaan dalam valuta asing, baik pembayaran bunga maupun pokok utang. Menurut Shinta, hal tersebut memengaruhi pengelolaan arus kas serta meningkatkan profil risiko perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.
Dalam menghadapi situasi tersebut, dunia usaha disebut mulai menerapkan strategi yang lebih hati-hati dan berbasis penyesuaian risiko dan prudent. Pendekatan selective growth disebut menjadi pilihan, di mana ekspansi tetap dilakukan tetapi lebih selektif dengan mempertimbangkan prospek permintaan, efisiensi biaya, serta kepastian imbal hasil investasi.
“Sementara itu investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda,” kata Shinta,
Dari sisi mitigasi risiko, Shinta menyebut pelaku usaha juga memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs serta menata kembali struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing. Pelaku usaha pun kini fokus melakukan efisiensi melalui rasionalisasi belanja modal, optimalisasi modal kerja, dan peningkatan produktivitas.
“Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan, meskipun kami melihat bahwa kemampuan substitusi domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor,” ucap Shinta.
Shinta pun menilai sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat penting di tengah kuatnya tekanan eksternal dan terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan.
“Dunia usaha pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap peluang secara selektif, dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat. Kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan,” pungkas Shinta.
