Kumparan Logo

Rute Langsung Penerbangan Rusia-RI Dinilai Bisa Jadi Pintu Masuk Pasar ASEAN

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pesawat militer Rusia, Antonov AN-22. Foto: YURI KADOBNOV/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesawat militer Rusia, Antonov AN-22. Foto: YURI KADOBNOV/AFP

Presiden Prabowo Subianto mendorong pembukaan penerbangan langsung antara Indonesia dan Rusia. Jika terwujud, hal itu dinilai tak hanya bisa membuka pintu pasar penumpang dari Rusia melainkan juga penerbangan-penerbangan di sekitarnya.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, juga menjelaskan sebelumnya memang sudah ada rute langsung dari Rusia ke Bali yang dioperasikan oleh maskapai asal Rusia, Aeroflot. Untuk itu ia menilai potensi pasar penerbangan langsung Rusia-Indonesia memang ada.

“Pasarnya bukan hanya penumpang dari Rusia, tetapi juga dari negara-negara di sekitar Rusia, seperti Tatarstan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, dan negara-negara lainnya. Penerbangan bisa dilakukan dari Moskow menuju Jakarta maupun Bali. Jadi, menurut saya, pasarnya cukup luas,” kata Alvin kepada kumparan, Jumat (9/4).

Di samping itu, Alvin melihat gagasan Prabowo tersebut cukup menarik karena rute tersebut nantinya tak hanya mencakup bisnis melainkan juga aspek diplomasi. Hal ini karena Indonesia sudah menjadi bagian dari BRICS.

“Kita tahu bahwa Indonesia juga telah menjadi bagian dari BRICS. Karena itu, saya melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi Presiden Prabowo untuk memperkokoh hubungan dan kebersamaan Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS, termasuk Rusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini, masyarakat Indonesia yang bepergian ke Rusia pada umumnya harus transit di kota-kota Eropa seperti Frankfurt, Amsterdam, atau Paris karena tak ada penerbangan langsung.

Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) sebelum melakukan pertemuan di sela-sela Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Foto: ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis

Untuk penerbangan langsung yang sempat ada dari Aeroflot, Alvin menjelaskan hal itu memang mengalami kendala akibat adanya ancaman dari Amerika Serikat (AS) soal larangan memberikan layanan kepada penerbangan Rusia.

Meski demikian, menurutnya Indonesia memang harus tetap memperhatikan reaksi AS namun juga mengutamakan prinsip non-blok.

“Nah, tentu akan menarik untuk melihat apabila penerbangan langsung Rusia-Indonesia kembali dibuka dan bagaimana langkah tersebut dapat memperkuat hubungan Indonesia dengan Rusia. Di sisi lain, kita juga perlu memperhatikan bagaimana nantinya reaksi dari Amerika Serikat,” kata Alvin.

“Namun, saya mendukung langkah tersebut. Sebagai negara nonblok, Indonesia semestinya tidak bisa didikte oleh negara lain. Kita harus tetap menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif serta menjalin kerja sama yang kuat dengan semua negara,” lanjutnya.

Selain Alvin, pengamat penerbangan, Gerry Soejatman juga mengatakan bahwa memang Aeroflot pernah membuka rute langsung Rusia-Indonesia. Namun, hal itu kini terkendala karena ada ancaman embargo dari AS akibat perang Rusia-Ukraina.

Di samping itu, ia juga mempertanyakan apakah ada maskapai Indonesia yang mau membuka rute langsung tersebut. Hal ini karena rute tersebut kini sudah diisi oleh maskapai-maskapai dunia khususnya yang berasal dari Timur Tengah.

“Yang jadi pertanyaan, apakah ada maskapai Indonesia yang bisa membuka rute ke Rusia? Pasarnya selama ini sudah diambil oleh maskapai-maskapai Timur Tengah. Belum lagi masalah financial embargo yang diakibatkan perang Rusia-Ukraina, jadi kalau ada maskapai Indonesia yang terbang kesana, harus disiapkan bagaimana bisa pembayaran 2 arah dilakukan tanpa mengakibatkan dampak2 dari financial embargo tersebut,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) sebelum melakukan pertemuan di sela-sela Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Foto: ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak Rusia untuk membangun jalur pelayaran secara langsung demi meningkatkan konektivitas kedua negara. Hal ini disampaikan Prabowo dalam agenda Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9).

Selain membuka jalur laut, Prabowo juga mendorong pembukaan penerbangan langsung antara kedua negara untuk meningkatkan mobilitas masyarakat dan pariwisata.

“Dan mari kita juga bersikap praktis mengenai hubungan antarmanusia. Penerbangan langsung akan membawa wisatawan Rusia ke Indonesia dan wisatawan Indonesia menikmati keindahan Timur Rusia,” kata Prabowo.

Prabowo turut mengajak Rusia mempercepat implementasi kerja sama perdagangan bebas serta meningkatkan perdagangan bilateral.

“Mari kita membangun jalur pelayaran langsung, mari kita membuka penerbangan langsung, mari kita membuat perjanjian perdagangan bebas kita berjalan sejak hari pertama, mari kita menggandakan perdagangan kita,” kata Prabowo.

Di luar sektor perdagangan dan konektivitas, Prabowo juga menginginkan kerja sama produksi di sejumlah sektor strategis, mulai dari pangan, pupuk, energi, obat-obatan, hingga teknologi.

Ia bahkan menawarkan peran sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, bersama Russian Direct Investment Fund (RDIF) untuk membiayai proyek-proyek strategis antara kedua negara.