Saat Bendung Katulampa Nyaris Kering Imbas El Nino

Pemandangan Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, tampak berbeda pada Minggu (20/9) siang. Aliran air yang biasanya memenuhi bagian bawah bendung terlihat menyusut, menyisakan bebatuan besar yang berada di dasar sungai.
Pantauan kumparan di lokasi, debit air di Bendung Katulampa relatif rendah. Dari sembilan pintu bendung yang ada, hanya dua pintu yang terlihat dibuka dan dialiri air.
Di bagian sungai utama yang mengarah ke Jakarta dan sekitarnya, permukaan air bahkan menyisakan hamparan lumpur dan bebatuan. Sejumlah batu berukuran besar yang biasanya berada di bawah permukaan air, kini terlihat jelas. Tinggi air di beberapa bagian sungai pun hanya sekitar selutut orang dewasa.
Penunjuk ketinggian air di Bendung Katulampa biasanya ditandai dengan empat warna. Hijau menunjukkan status siaga empat, kemudian biru untuk siaga tiga, kuning siaga dua, dan merah sebagai tanda siaga satu.
Namun, pemandangan di Katulampa saat ini justru berada di bawah warna hijau. Permukaan air belum menyentuh batas indikator paling rendah pada penunjuk ketinggian air.
Meski aliran air menyusut, suasana di sekitar Bendung Katulampa tetap ramai oleh aktivitas warga. Sejumlah warga terlihat berolahraga dan menikmati suasana di sekitar bendung.
Salah satu warga, Ajat, mengatakan kondisi debit air yang mengecil merupakan hal yang biasa terjadi ketika musim kemarau. Menurutnya, meski air menyusut, kondisi Bendung Katulampa saat ini masih dalam batas aman.
“Iya [menyusut], [debit air] agak kecil,” kata Ajat, ketika ditemui kumparan.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat sungai-sungai di Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa dan ratusan bendungan mengalami kekeringan karena fenomena El Nino berkepanjangan.
Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, mengatakan fenomena El Nino masih harus diwaspadai, mengingat BMKG memprediksi El Nino masih bertahan hingga awal 2027.
Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau, sementara hujan yang terjadi umumnya masih bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.
"Untuk kondisi sungai, berdasarkan pemantauan Kementerian PU, sungai-sungai di Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi mengalami penyusutan yang cukup signifikan," ungkap Diana saat dihubungi kumparan, Senin (14/9).
