Kumparan Logo

Sah! BUMN Baja China Jadi Mitra Krakatau Steel di Proyek Blast Furnace

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produksi bulanan baja lembaran dingin atau baja cold rolled coil (CRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pecah rekor. Foto:  Krakatau Steel
zoom-in-whitePerbesar
Produksi bulanan baja lembaran dingin atau baja cold rolled coil (CRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pecah rekor. Foto: Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) akhirnya menetapkan mitra untuk menggarap kembali proyek Blast Furnace Complex yaitu Baowu Group Zhongnan Co. Ltd. Baowu Group merupakan BUMN baja asal China.

Pembangunan proyek Blast Furnace Complex sebelumnya pernah mangkrak dari 2012-2018. Setelah itu, pabrik berhasil beroperasi tapi hanya sebentar karena pada 2019 ditutup. Salah satu masalah dari proyek ini di masa lalu karena ada pembengkakan nilai investasi.

Dengan adanya mitra baru, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan pabrik siap berjalan lagi.

“Setelah melewati berbagai tahap seleksi beauty contest yang dilakukan bersama konsultan independen ternama, Baowu Group Zhongnan Co. Ltd. terpilih dari 3 perusahaan yang tertarik untuk mengerjakan reaktivasi dan Blast Furnace Complex Krakatau Steel,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (29/9).

Baowu Group adalah perusahaan baja milik pemerintah China, salah satu yang terbesar di dunia dengan total kapasitas produksi sebesar 120 juta ton per tahun di 2021 berdasarkan data World Steel Association pada 2021.

Silmy mengatakan bahwa Zhongnan Co. Ltd. dengan dukungan yang dimiliki oleh Baowu Group sebagai perusahaan ternama, termasuk di dalamnya memiliki kemampuan pendanaan, sumber daya manusia, teknologi, serta akses supply chain, memantapkan manajemen untuk mengikatkan kerja sama.

Dirut PT Krakatau Steel Tbk Silmy Karim (kanan) kala mendampingi Rini Soemarno yang saat itu menjadi Menteri BUMN untuk meninjau unit tambahan Blast Furnace yang baru. Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Blast Furnace Complex seluas total 74 hektare yang awalnya dibangun pada 2012 kemudian dirampungkan pada 2019, merupakan investasi yang sudah dilakukan Krakatau Steel. Sejak itu pabrik Blast Furnace dihentikan sementara pengoperasiannya karena dinilai tidak efisien. Kerja sama reaktivasi ini adalah salah satu upaya dan solusi dari manajemen agar fasilitas yang selama ini tidak terpakai dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan.

“Kerja sama Krakatau Steel dan Baowu Zhongnan Co. Ltd. rencananya akan dimulai pada akhir Desember 2022 ini,” lanjut Silmy.

Reaktivasi ini direncanakan akan dilakukan dalam tiga tahap yakni Tahap 1 akan dilakukan pembaruan pada Wire Rod Mill sehingga dapat memproduksi Wire Rod hingga 600.000 ton per tahun. Tahap 2 yang juga dilakukan secara paralel dengan Tahap 1 dimulai dari reaktivasi pada Blast Furnace Complex dengan mengoptimalkan penggunaan energi melalui pembangunan Basic Ocxygen Furnace (BOF) baru dan fasilitas pengecoran Billet yang dapat menghasilkan Billet dengan total 1,5 juta ton per tahun.

Pada Tahap 3 akan dibuat jalur produksi baja berupa Blast Furnace Complex baru yang akan menghasilkan Billet sebanyak 2,2 juta ton per tahun.

PT Krakatau Steel Tbk teken kerja sama dengan perusahaan baja China, Baowu Group Zhongnan, untuk kembangkan pabrik blast furnace, Rabu (25/5/2022). Foto: Krakatau Steel

Reaktivasi ini, kata Silmy, akan mendukung ketersediaan bahan baku untuk produksi Krakatau Steel sehingga membuat biaya operasional semakin kompetitif. Produksi pabrik juga dapat meningkat sehingga kami dapat memaksimalkan produksi baja hulu Krakatau Steel.

“Dengan reaktivasi kedua pabrik ini, kami dapat memaksimalkan produksi baja hulu Krakatau Steel dan turunannya sehingga kami akan mampu mensubstitusi produk-produk baja long product yang selama ini dipenuhi melalui impor. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi kami dalam memaksimalkan utilisasi produk baja domestik untuk pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri,” tutup Silmy.