Kumparan Logo

Saham 3 Perusahaan Emas Naik Saat Harga Emas Diramal Terus Turun

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Harga emas per batang. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Harga emas per batang. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Tren penurunan harga emas atau logam mulia di dalam negeri tidak dibarengi dengan merosotnya saham-saham perusahaan yang bergerak di tambang tersebut. Ketiga saham emas yang kumparan catat pada Senin (16/11) ternyata menunjukkan kenaikan.

Kenaikan saham tertinggi dialami MDKA yang melesat 2,20 persen atau 40 poin, yakni di harga Rp 1.855. PT Merdeka Copper Gold Tbk, yang 20 persen sahamnya dimiliki perusahaan investasi Sandiaga Uno, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, pada semester I 2020, meraih kinerja keuangan positif.

Perseroan membukukan pendapatan sebesar USD 199 juta, naik 3,7 persen dari tahun sebelumnya USD 192 juta (year on year),serta laba bersih sebesar USD 35,42 juta.

Sementara perusahaan tambang emas milik BUMN, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, harga saham ANTM mengalami kenaikan 1,71 persen atau 20 poin di posisi Rp 1.190. Pemain swasta lain di tambang emas, yakni PT J Resources Asia Pasifik Tbk, harga saham PSAB naik 1,89 persen atau 4 poin di harga Rp 216.

Harga Emas Berpotensi Turun Jadi Rp 800 Ribu per Gram

Meski saham-saham perusahaan tambang emas mengalami kenaikan pada pergerakan di bursa saham kemarin, tren harga emas logam mulia menunjukkan penurunan dalam sepekan terakhir. Penurunan terjadi cukup dalam, hingga membuat harga emas kembali bertengger di bawah Rp 1 juta per gram.

Dari pantauan kumparan, penurunan harga emas paling tajam terjadi sejak Selasa (10/11) hingga Kamis (12/11) yang merosot Rp 38.000 per gram.

Sementara harga emas Antam atau PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada hari ini terpantau stagnan. Mengutip situs perdagangan Logam Mulia, Senin (16/11), harga emas stagnan di Rp 985.000 per gram. Demikian juga harga buyback yang stagnan Rp 864.000 per gram.

Direktur PT TRX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai penurunan harga emas didorong kuatnya prospek penemuan vaksin virus corona. Jika vaksin sudah ditemukan, ada harapan ekonomi membaik dan emas sebagai safe haven tak lagi diburu.

"Pada akhirnya harga akan turun. Kemungkinan 2021-2022 harga emas mencapai level terendahnya USD 1.700 per troy ons, lalu bisa saja emas logam mulia Rp 800 ribu per gram," ujar Ibrahim saat dihubungi kumparan, Jumat (13/11).

Petugas menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Logam Mulia, Jakarta, Selasa (3/9). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Milenial Harus Pandai Berinvestasi

Ibrahmi mengingatkan pada milenial yang di tahun ini banyak investasi emas, agar berhati-hati sebab ada kemungkinan harganya bisa kembali ke level Rp 800.000 per gram.

"Anak-anak muda ini yang menggebu-gebu, semangat, ingin dapat uang lebih dari selain gaji bulanan. Mereka inginnya lakukan investasi di logam mulia dengan keuntungan yang besar. Padahal, kalau diperhatikan, spread harga emas cuma Rp 100.000," katanya.

Menurut Ibrahim, berinvestasi emas atau logam mulia sah-sah saja dilakukan saat ini, tapi jangan berharap bisa untung dalam waktu dekat. Menurut dia, investasi emas ideal dilakukan untuk jangka menengah minimal 5 tahun dan jangka panjang sampai 10 tahun agar kelihatan jelas perbedaan harga saat membeli.

Investasi emas dalam waktu singkat seperti spekulasi di instrumen saham hanya akan membuat rugi. Alasannya, pola kenaikan dan titik jenuh harga emas umumnya terjadi 9 tahun sekali.