Kumparan Logo

Saham Garuda Indonesia Anjlok 6,86 Persen, Investor Cermati Laporan Keuangan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (6/1). Penurun terjadi sejak suspensi dicabut oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mengutip data RTI, Saham GIAA anjlok 12 poin atau 6,86 persen ke harga Rp 163 per lembar pukul 11:42 WIB. Pada pembukaan perdagangan, saham GIAA dibuka di harga Rp 175 per lembar.

Frekuensi pembelian saham GIAA hanya sebanyak 582 kali. Kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp 14,91 triliun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian, mengatakan investor sebaiknya melihat kinerja keuangan kuartal IV 2022 bagi yang ingin investasi jangka panjang. Laporan keuangan dicermati untuk melihat seberapa besar dampak dari pulihnya perjalanan masyarakat dan turis.

"Semenjak dicabut, kinerja dari harga sahamnya tercatat masih mengalami penurunan dan ARB berturut-turut. Meskipun demikian, per kuartal III 2022 GIAA sudah mulai mencatatkan profit seiring dengan naiknya pendapatan yang didorong oleh pulihnya mobilitas masyarakat," kata Fajar saat dihubungi kumparan, Jumat (6/1).

embed from external kumparan

Menurut Fajar, saham GIAA masih belum menarik untuk dikoleksi. Selain karena emiten tersebut masih mencatatkan ekuitas negatif, GIAA masih mengalami restrukturisasi utang.

Fajar mengamati saham GIAA sedang menghadapi berbagai sentimen negatif seperti gugatan hukum. Investor sebaiknya wait and see sambil mencermati perkembangan kasus gugatan tersebut.

Sementara itu, Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menuturkan, saham yang baru lepas suspensi akan diapresiasi para pelaku pasar, karena harapan bahwa kinerja fundamental akan membaik ke depannya. Dengan dihentikannya PPKM dan aktivitas penerbangan yang semakin ramai, terlihat dari kenaikan jumlah penumpang, diharapkan kinerja di tahun 2023 akan terus membaik.

Dari segi biaya, lanjut Jono, dengan harga minyak mentah yang terus turun, maka biaya bahan bakar yang merupakan salah satu pengeluaran terbesar dapat lebih rendah. Ditambah lagi restrukturisasi utang yang telah dilakukan, suntikan modal negara, dan konversi utang diharapkan juga dapat memperkuat neraca keuangan GIAA sehingga kinerja perseroan akan lebih positif ke depannya.

"Untuk yang sudah punya sebaiknya melihat lagi tujuan awal pembelian saham GIAA, jika untuk trading maka secara harga sebaiknya membatasi kerugian dengan stop loss karena harga yang terus ARB," ujar Jono.