Saham Himbara Meroket, Dinilai Dampak Rencana Purbaya Kucurkan Rp 200 T ke Bank
·waktu baca 3 menit

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (11/9) pukul 10.22 tercatat menguat 1,41 persen atau naik 108,575 poin ke level 7.807,582. Positifnya IHSG itu dibarengi juga dengan kenaikan saham-saham Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara.
Senior Market Analyst Mirae Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan saham kali ini karena pasar memberi apresiasi tinggi terhadap langkah yang ditempuh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengatakan rapat kerja Purbaya bersama Komisi XI DPR untuk membahas target RAPBN 2026 senilai Rp 638,8 triliun memberi keyakinan bagi investor.
Selain itu, kenaikan tajam saham bank-bank BUMN hari ini juga dipicu euforia atas rencana Purbaya menarik Rp 200 triliun dari Rp 425 triliun dana pemerintah yang mengendap di Bank Indonesia, untuk kembali digerakkan ke dalam sistem perekonomian.
"Di sisi lain, adapun kenaikan harga saham bank BUMN secara signifikan pada hari ini tentunya mendapatkan euforia dari statement Menkeu Purbaya yang akan menarik Rp 200 triliun dari Rp 425 triliun uang negara yang mengendap di BI untuk dimasukkan ke sistem perekonomian,” jelas Nafan kepada kumparan, Kamis (11/9).
Sentimen tersebut langsung berdampak pada saham-saham yang melesat. Per pukul 11.00 WIB, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 6,10 persen ke level Rp 4.340 per saham.
Kemudian saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melonjak 6,27 persen ke posisi Rp 1.350. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 4,90 persen ke level Rp 4.070, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkerek 2,73 persen menjadi Rp 4.520. Tak ketinggalan, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turut naik 4,80 persen ke Rp 2.620.
Genjot Ekonomi, Menkeu Purbaya Bakal Kucurkan Rp 200 T Dana di BI ke Perbankan
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa akan menaruh dana segar sebesar Rp 200 triliun di sistem perbankan nasional, dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang disimpan di Bank Indonesia (BI). Menurut dia, anggaran pemerintah yang mengendap di BI mencapai Rp 425 triliun dinilai terlampau besar di saat peredaran uang di masyarakat sangat rendah, bahkan mendekati 0.
"Saya sudah lapor ke Presiden, saya akan taruh uang ke sistem perekonomian. Berapa? Saya sekarang punya Rp 425 triliun di BI cash. Besok saya taruh Rp 200 triliun," ungkapnya saat Rapat Kerja Komisi XI DPR, Rabu (10/9).
Menurutnya, kebijakan fiskal melalui belanja pemerintah tidak bisa menjadi patokan pertumbuhan ekonomi, apalagi jika realisasinya rendah. Untuk itu harus didukung oleh kebijakan moneter, salah satunya melalui perbankan.
