Kumparan Logo

Salak RI Mulai Diekspor ke Selandia Baru Tahun Ini

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Buah Salak  (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Buah Salak (Foto: Pixabay)

Guna menggenjot potensi pendapatan devisa negara, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian memfasilitasi akselerasi ekspor terhadap beberapa komoditas pertanian. Salah satunya adalah buah salak.

Buah salak asal Indonesia sangat disukai banyak orang, terutama Salak Pondoh atau sering disebut 'Salak Super Sleman'. Salak ini sangat berkualitas karena rasanya enak, daging buahnya manis, garing, dan aromanya sedap. Di samping itu, salak ini juga bebas dari bahan kimia karena tumbuh di Lereng Merapi dengan tanah vulkanik dari Merapi dan pupuk organik. Ini yang menyebabkan negara Selandia Baru kepincut.

"Keberhasilan salak Indonesia menembus pasar Selandia Baru merupakan pencapaian penting, mengingat Selandia Baru merupakan negara yang memiliki standard phytosanitary tinggi. MPI Selandia Baru telah mengeluarkan Import Health Standard (IHS), yaitu persyaratan karantina tumbuhan terhadap produk impor yang masuk ke negara tersebut," ungkap Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (23/3).

Banun menjelaskan sebelum salak tersebut diekspor ke Selandia Baru, Indonesia harus memastikan produknya memenuhi IHS sebelum penerbitan Phytosanitary Certificate (PC).

Buah Salak (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Buah Salak (Foto: Pixabay)

Badan Karantina Pertanian telah berhasil melakukan negosiasi dengan dirjen teknis terkait dalam upaya memenuhi persyaratan IHS Selandia Baru. Masuknya salak pondoh ke pasar Selandia Baru juga diharapkan mampu membuka peluang ekspor salak dan komoditas pertanian ke negara lain.

Data Badan Karantina Pertanian menunjukkan salak Indonesia telah menembus 29 negara di dunia tanpa mengalami hambatan karena memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh negara tujuan. Misalnya ke China, Kamboja, Saudi Arabia, Singapura dan Belanda menjadi negara terbesar pengimpor salak Indonesia.

"Salak merupakan buah tropis dan struktur kulitnya membuat salak bebas hama sehingga mudah masuk ke negara tujuan. Karantina telah berhasil menerapkan jaminan kesehatan dan keamanan pangan salak dengan baik," katanya.

Data dua tahun terakhir sejak tahun 2015 sampai 2016, ekspor salak Indonesia mengalami peningkatan hingga 4,24 persen. Tahun 2015 tercatat volume sebesar 758.656,03 kg, dan tahun 2016 sebesar 790.888,05 kg. Selanjutnya pemerintah berharap peluang ekspor salak dan buah lainnya akan semakin terbuka dan tanpa hambatan teknis dari negara tujuan.