Kumparan Logo

Salip Filipina, Kini RI Pengguna Listrik Panas Bumi Nomor 2 Dunia

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PLTP Pertamina di Ulubelu, Lampung (Foto: Dok. Pertamina)
zoom-in-whitePerbesar
PLTP Pertamina di Ulubelu, Lampung (Foto: Dok. Pertamina)

Adanya 150 ribu gunung aktif yang tersebar di seluruh nusantara membuat Indonesia sangat kaya akan potensi energi dari panas bumi.

Sekitar 40% dari potensi energi panas bumi di seluruh dunia, yaitu 29.000 Megawatt (MW), berada dalam ring of fire di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling kaya akan panas bumi.

Uap panas bumi dapat menghasilkan listrik hingga ratusan tahun. Dari potensi sebesar 29.000 MW, kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) di Indonesia baru 1.808 MW. Artinya, baru sekitar 6% potensi panas bumi saja yang sudah dimanfaatkan.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan ada tambahan 30 MW sehingga listrik dari panas bumi di Indonesia mencapai 1.838 MW.

Sebenarnya kapasitas terpasang PLTP di Filipina mencapai 1.870 MW, lebih besar dari Indonesia dan tercatat sebagai yang terbesar ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat.

Namun, produksi uap panas bumi di Filipina menurun sehingga listrik yang dihasilkan tak maksimal, hanya sekitar 1.600 MW. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara juara 2 dalam pemanfaatan energi panas bumi di bawah Amerika Serikat (AS) yang memiliki kapasitas terpasang PLTP sebesar 3.500 MW.

"Sekarang posisi kapasitas terpasang kita 1.808,5 MW dan akhir Desember 2017 atau awal Januari 2018 akan COD (Commercial Operation Date) 30 MW di Karaha, Jawa Barat. Sehingga total kapasitas terpasang menjadi 1.838.5. Sementara ini Filipina kapasitas terpasang 1.870 MW. Namun demikian karena di Filipina terjadi penurunan produksi menjadi sekitar 1.600 MW, maka boleh saja diklaim kita sudah menjadi nomor 2 dunia," kata Yunus kepada kumparan (kumparan.com), Jumat (29/2).

Tahun depan, pemanfaatan energi panas bumi akan bertambah lagi dengan mulai beroperasinya PLTP Sarulla Unit III sebesar 110 MW, Sorik Marapi 40 MW, dan Sokoria 10 MW. Kapasitas terpasang PLTP di Indonesia akan mencapai 1.998,5 MW di 2018.

"Untuk tahun 2018 akan tambah lagi dari Sarulla sebesar 110 MW, Sorik Marapi 40 MW, Sokoria 10 MW, sehingga total tahun 2018 menjadi 1.998,5 MW," papar Yunus.

Yunus menambahkan, pihaknya bertekad menjadikan Indonesia juara di bidang pengembangan panas bumi. Setelah menikung Filipina, Indonesia akan melampaui AS pada 2022, sehingga Indonesia bisa nomor wahid dalam hal pengembangan panas bumi. Dengan kata lain, pembangunan PLTP dikebut hingga mencapai 4.000 MW dalam 4 tahun ke depan.

"Sudah pasti tahun 2018 kita akan menyalip Filipina. Sementara nomor 1 masih Amerika dengan 3.450 MW. Mudah-mudahan 2022 atau 2023 kita nomor 1 dunia," tutupnya.

Pengembangan energi terbarukan harus dikebut untuk menekan konsumsi energi fosil, terutama minyak bumi, yang cadangannya di Indonesia sudah makin menipis, hanya tinggal 10 tahun lagi.

Berdasarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang disusun pemerintah, penggunaan energi terbarukan, termasuk panas bumi, akan ditingkatkan dari saat ini 6% menjadi 23% pada 2025. Adapun penggunaan minyak bumi ditarget turun dari saat ini 49% menjadi hanya 23% pada 2025.