Salip Indonesia, Bursa Singapura Jadi Pasar Saham Terbesar di Asia Tenggara
·waktu baca 4 menit

Bursa Singapura menyalip Indonesia, menjadikannya pasar saham terbesar di Asia Tenggara. Kapitalisasi pasar saham Negeri Singa itu kini melampaui Indonesia dan menjadikannya pasar saham terbesar di Asia Tenggara.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (21/5), kapitalisasi pasar Singapura mencapai USD 645 miliar, sedangkan kapitalisasi pasar Indonesia turun lebih dari 30 persen dari puncaknya pada Januari menjadi USD 618 miliar.
Kenaikan pasar saham Singapura didorong stabilitas politik dan ekonomi, serta berbagai kebijakan pemerintah untuk menghidupkan kembali pasar ekuitas domestik. Sebaliknya, sentimen terhadap Indonesia memburuk akibat kekhawatiran potensi penurunan klasifikasi pasar saham menjadi frontier market serta revisi outlook peringkat kredit oleh Fitch Ratings dan Moody’s.
Head of Equity Research Oversea-Chinese Banking Corp. di Singapura, Carmen Lee, mengatakan arus dana diperkirakan terus masuk ke pasar saham Singapura seiring kuatnya posisi dolar Singapura.
“Kekayaan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba dan bersama kuatnya dolar Singapura. Kami memperkirakan lebih banyak dana akan mengalir ke pasar,” ujar Carmen Lee.
Indeks Straits Times bahkan sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa lalu di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat volatilitas pasar yang dipicu perang Iran. Meski terkoreksi 0,5 persen pada perdagangan Rabu (20/5) karena aksi risk-off di Asia, pasar saham Singapura tetap berada dalam tren penguatan.
Kinerja pasar saham Singapura pada 2026 diperkirakan menjadi yang terbaik dibanding negara Asia Tenggara lainnya, meski ukuran ekonomi negara tersebut masih di bawah Indonesia. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat ekonomi Singapura bernilai sekitar USD 660 miliar, sedangkan Indonesia mencapai USD 1,5 triliun.
Portfolio Manager Lion Global Investors Ltd, Kenneth Ong, menilai investor melihat Singapura sebagai penerima manfaat dari ketidakpastian geopolitik global.
“Pasar melihat pasar saham Singapura secara struktural diuntungkan dari ketidakpastian geopolitik, dengan arus dana safe haven yang diperkirakan terus menopang sektor keuangan,” kata Kenneth Ong.
Pemerintah Singapura dalam beberapa tahun terakhir juga agresif melakukan reformasi pasar modal, termasuk menyiapkan program bernilai miliaran dolar Singapura untuk mendorong investasi pada saham domestik.
Selain itu, bank sentral Singapura menjadi yang pertama di Asia yang mengetatkan kebijakan moneter bulan lalu untuk merespons lonjakan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi. Ketahanan dolar Singapura yang mengungguli mata uang Asia Tenggara lainnya turut menopang penguatan pasar saham negara tersebut.
Tekanan Pasar Saham Indonesia Makin Besar
Di sisi lain, tekanan di pasar saham Indonesia semakin besar setelah aksi jual yang menghapus sekitar USD 360 miliar nilai saham sepanjang tahun ini. Kondisi itu menjadi tantangan bagi Presiden Prabowo Subianto dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan investor.
Kenaikan harga energi dinilai dapat menekan konsumsi masyarakat, sementara pelemahan rupiah membuat biaya bahan baku impor semakin mahal.
Data Bloomberg juga menunjukkan investor global telah menarik lebih dari USD 4 miliar dari pasar saham negara berkembang Asia Tenggara sepanjang tahun ini, dengan Indonesia menyumbang lebih dari separuh total arus keluar tersebut.
Tekanan tambahan datang dari keputusan MSCI Inc. yang menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeksnya, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. Langkah itu diperkirakan memicu arus keluar dana hingga USD 2 miliar pada akhir bulan ini.
Pemerintah dan otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah meluncurkan sejumlah reformasi, seperti menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen dengan masa transisi hingga tiga tahun bagi sejumlah emiten untuk mencegah penurunan status pasar.
Meski demikian, perhatian investor kini tertuju pada hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) bulan depan yang akan menentukan apakah reformasi tersebut cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market.
Equity Strategist Bloomberg Intelligence, Sufianti, menilai reformasi pasar modal Indonesia bergerak ke arah positif, tetapi masih ada sejumlah risiko yang membayangi.
“Reformasi pasar saham terbaru bergerak ke arah positif, tetapi kekhawatiran terkait MSCI, kondisi fiskal, dan tekanan mata uang masih dapat membuat investor berhati-hati,” ujar Sufianti.
