Kumparan Logo

Sama-sama Kelola Dana, Ini Bedanya BPJamsostek dengan Jiwasraya - ASABRI

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung BPJS Ketenagakerjaan Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gedung BPJS Ketenagakerjaan Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan atau BPJamsostek memastikan seluruh dana para pekerja aman. Adapun selama tahun lalu, total dana yang dikelola asuransi ketenagakerjaan ini mencapai Rp 431,67 triliun.

Pengelolaan dana BPJamsostek itu pun dipastikan aman. Berbeda dengan sejumlah kasus asuransi di perusahaan pelat merah seperti PT Asuransi Jiwasraya (Persero) maupun PT ASABRI (Persero).

Porsinya penempatan dana investasi BPJamsostek ke Surat Utang Negara (SUN) mencapai yakni 60 persen dari total dana kelolaan, atau setara Rp 259 triliun. Menyusul pada saham 19 persen, deposito 11 persen, reksa dana 9 persen, dan investasi langsung 1 persen.

Berkat startegi itu, BPJamsostek sukses mencatatkan return investasi Rp 29,16 triliun atau meningkat 7,34 persen dari realisasi tahun sebelumnya yakni Rp 27,28 triliun.

“Dana yang kita kelola itu diinvestasikan paling besar ke SUN itu porsinya 60 persen dari total dana yang kita kelola,” ujar Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJamsostek Sumarjono di Medan, Sumatera Utara, Rabu (19/2).

Sementara untuk investasi pada instrumen saham yang mencapai Rp 82,02 triliun atau 19 persen dari total dana kelolaan, BPJamsostek pun tak main-main dalam pemilihan sahamnya.

Direktur Perencanaan Strategis dan TI BPJamsostek, Sumarjono. Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Sumarjono menyebut, BPJamsostek menginvestasikannya ke sejumlah saham anggota indeks LQ45. LQ45 maksudnya adalah 45 perusahaan yang telah melaui proses seleksi dengan likuiditas tinggi serta beberapa kriteria tertentu lainnya.

“Tahun lalu kita berinvestasi lebih banyak ke emiten LQ45, saham lapis satu. Tidak ada investasi ke saham lapis kedua atau ketiga,” jelasnya.

Selain itu, ada juga investasi pada saham emiten non-LQ45. Namun menurut Sumarjono, saham-saham ini sebelumnya masuk LQ45, seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Meski begitu, jenis saham ini masih menghasilkan deviden yang cukup signifikan tahun lalu.

“Tapi kemudian terjadi penurunan kinerja di emiten itu, sehingga harus keluar dari indeks LQ45, seperti Garuda Indonesia. Tapi secara keseluruhan dividennya baik,” katanya.

Hal tersebut tentu berbeda dengan Jiwasraya maupun ASABRI yang justru tersandung masalah akibat investasi di saham ‘gorengan.’

Ilustrasi Jiwasraya. Foto: Shutter Stock

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebutkan kasus gagal bayar polis asuransi JS Saving Plan Jiwasraya karena salahnya penempatan portofolio investasi. Jiwasraya menyebar investasi pada instrumen saham dan reksa dana yang berkualitas rendah dan berisiko tinggi alias saham gorengan.

Saham-saham gorengan yang kerap dibelinya, antara lain saham Bank BJB (BJBR), Semen Baturaja (SMBR), dan PT PP Properti Tbk. Saham-saham gorengan tersebut terindikasi merugikan negara sebesar Rp 4 triliun.

Begitu juga dengan ASABRI. Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja mengatakan, penurunan aset asuransi TNI dan Polri tersebut karena penempatan investasi saham dan reksa dana di Hanson International Group, yang dijalankan Benny Tjokro dan Heru Hidayat, yang juga menjadi biang kerok kasus Jiwasraya.

Total aset ASABRI pada 2018 mencapai Rp 19,4 triliun dari pengelolaan program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM). Namun per Desember 2019, total aset tersebut turun menjadi Rp 10,6 triliun.

Selanjutnya, total aset ASABRI dari pengelolaan iuran pensiun atau Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) juga mengalami penurunan. Dari Rp 26,9 triliun pada 2018, menjadi Rp 18,9 triliun di akhir tahun lalu.