Kumparan Logo

Samator Gas (AGII) Raup Laba Bersih Rp 24,2 Miliar di Semester I 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Operasional di Plant Samator Bambe, Gresik, Jawa Timur. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Operasional di Plant Samator Bambe, Gresik, Jawa Timur. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) mencetak laba bersih sebesar Rp 24,2 miliar pada semester I 2025, anjlok 65 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari semester I 2024 sebesar Rp 69,14 miliar.

Wakil Direktur Utama Samator Gas, Imelda Harsono, mengatakan perseroan membukukan penjualan bersih Rp 1,42 triliun, naik 2,1 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,34 triliun.

Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh peningkatan volume penjualan gas industri. Laba kotor perseroan selama enam pertama tahun 2025 juga naik sebesar 0,4 persen menjadi Rp 643,4 miliar, sejalan dengan peningkatan penjualan, namun sedikit di net off dengan peningkatan di biaya produksi overhead.

"Laba bersih dilaporkan sebesar Rp 24,2 miliar atau turun 65 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya," kata Imelda saat Public Expose, Senin (13/10).

Imelda menjelaskan, penurunan laba bersih perseroan disebabkan peningkatan biaya penjualan dan biaya umum administrasi seperti biaya distribusi, biaya sewa, dan asuransi tengki dan silinder, serta penyusutan aset tetap dan amortisasi lisensi sistem.

Sementara itu, EBITDA Samator Gas juga sedikit mengalami penurunan, yaitu sebesar 3,7 persen dari semester I 2024 tercatat sebesar Rp 427,5 miliar, menjadi Rp 411,5 miliar pada semester I 2025.

Imelda menjelaskan, dari posisi keuangan, total aset perseroan per 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp 8,21 triliun, meningkat 2,7 persen dibandingkan dengan total aset per 30 Juni 2024.

"Total liabilitas per 30 Juni 2025 meningkat 4,6 persen menjadi Rp 4,43 triliun. Hal ini disebabkan adanya pengambilan atau drawdown dari fasilitas syndicated bank loan yang sudah tersedia," katanya.

Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di pasar terkait kenaikan saham AGII salah satunya mengenai isu pertumbuhan anorganik, Imelda menjelaskan bahwa hal tersebut memang menjadi bagian dari strategi jangka panjang Perseroan.

“Rencana pertumbuhan anorganik memang termasuk dalam strategi kami untuk memperluas bisnis dan memperkuat posisi di industri gas nasional." kata Imelda.

Namun dia mengatakan rencana tersebut masih tahap pembahasan dan kajian manajemen. Sesuai dengan ketentuan bursa, perusahaan akan menyampaikan keterbukaan informasi apabila terdapat transaksi material yang dihasilkan dari proses penjajakan ini.

Operasional di Plant Samator Bambe, Gresik, Jawa Timur. Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Imelda juga menegaskan bahwa salah satu indikator kuatnya fundamental Perseroan tercermin dari keberhasilan Samator Indo Gas mempertahankan peringkat nasional jangka panjang A(idn) dengan prospek stabil selama empat tahun berturut-turut sejak 2022.

“Pencapaian ini mencerminkan ketahanan bisnis kami di tengah dinamika ekonomi nasional. Sebagai pemimpin pasar gas industri dengan pangsa sekitar 40 persen dan gas medis sebesar 75–80 persen, kami memiliki jaringan distribusi yang luas, basis pelanggan yang beragam, serta fokus pada produk bermargin tinggi seperti mixed gas dan specialty gas. Kombinasi faktor inilah yang menjaga stabilitas peringkat kredit kami dan menjadi bukti kepercayaan pasar terhadap kinerja Samator Indo Gas,” ujar dia.

Mau Tambah 2 Pabrik

Sementara itu, Direktur Samator Gas Sigit Purwanto mengatakan perseroan berencana menambah dua pabrik pada tahun 2025 ini. Saat ini, perseroan memiliki 58 pabrik yang tersebar di 29 provinsi.

Sigit menjelaskan, Samator Gas memiliki beberapa pabrik baru yang sudah mulai konstruksi sejak awal tahun ini dan akan coommissioning dan start up pada akhir tahun 2025 ini.

"Saat ini memang kami sudah memiliki cukup pabrik, dan di akhir tahun 2025 ini, kami rencananya memang akan memulai commissioning dua pabrik di Batam, yaitu liquefaction di Batam dan pabrik nitrogen yang didirikan di salah satu pelanggan kami di Batam," jelas Sigit.

Namun demikian, kata Sigit, perusahaan tidak berencana membuka pabrik pada tahun 2026 mendatang.

"Di luar itu, untuk tahun depan, saat ini kami belum ada rencana untuk membangun pabrik baru. Kami akan memanfaatkan kapasitas plan yang sudah ada, yang saat ini dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan gas industri di Indonesia," tutur Sigit.

instagram embed