Satgas Pangan Polri Ungkap 4 Produsen yang Diperiksa Terkait Beras Oplosan
·waktu baca 2 menit

Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri sudah melakukan pemeriksaan terhadap empat produsen beras terkait adanya indikasi pelanggaran mutu dan takaran. Sampai saat ini proses pemeriksaan masih berlangsung.
Sebelumnya Menteri Pertanian Amran menceritakan awal mula kecurigaan beras oplosan didasari pada anomali harga beras sejak 2-3 bulan lalu yang naik di tingkat konsumen. Padahal, di tingkat petani dan penggilingan, harga gabah dan beras mengalami penurunan.
"Betul, masih dalam proses pemeriksaan," jelas Kasatgas Pangan Polri Brigjen Pol. Helfi Assegaf dikutip dari Antara, (17/7).
Empat produsen yang diperiksa tersebut ada Wilmar Group, untuk produk merek Sovia Fortune. Satgas Pangan Polri memeriksa 10 sampel yang berasal dari Aceh, Lampung, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, dan Jabodetabek.
Pada urutan kedua, Helfi juga menyebut pemeriksaan tengah berlangsung untuk PT Food Station Tjipinang Jaya dengan produk merk Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos.
Hasil pemeriksaan menunjukan beberapa beras premium yang dipasok oleh Food Station seperti Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, dan lainnya tak memenuhi standar mutu dan telah diuji di lima laboratorium yang berbeda.
Ketiga, ada PT Belitang Panen Raya, pemeriksaan dilakukan setelah Satgas Pangan Polri mengambil tujuh sampel yang bersumber dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, aceh, dan Jabodetabek. Untuk produsen ini, merek beras yang diperiksa adalah adalah Raja Platinum, dan Raja Ultima.
Ada juga, pemeriksaan kepada PT Sentosa utama Lestari atau Japfa Group Ayana. Satgas Pangan Polri melakukan pemeriksaan setelah tiga sampel diambil dari Yogyakarta dan Jabodetabek.
Terkait jumlah merek yang melakukan skandal pengoplosan, sebelumnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut berdasarkan investigasi gabungan terdapat 212 merek yang melakukan hal tersebut dari 268 merek yang dijadikan sampel.
Untuk metode pengoplosan, Amran menjelaskan dalam temuan investigasi awalnya terdapat 85 persen beras premium yang dijual dengan harga yang tidak sesuai dengan kualitas. Meski begitu, ia juga menuturkan beberapa perusahaan telah kembali menjual beras dengan harga sesuai kualitasnya.
“Ada yang dioplos, ada yang tidak dioplos, langsung ganti kemasan. Jadi ini semua beras curah, tetapi dijual harga premium, beras curah tapi dijual harga medium,” kata Amran.
Ia juga memproyeksi total kerugian masyarakat dengan adanya beras oplosan bisa mencapai Rp 99 triliun.
