Kumparan Logo

SBY Kritisi Dunia Sibuk Urusi Geopolitik dan Tak Peduli Transisi Energi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10/2025). Foto: Fariza/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10/2025). Foto: Fariza/kumparan

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengkritisi pemimpin dunia lebih banyak menggelontorkan uang untuk mengurusi geopolitik ketimbang transisi energi. Ia menilai hal itu sebagai sesuatu yang tak bermoral.

SBY membandingkan kondisi saat kepemimpinannya selama 1 dekade lalu dan kerja sama dengan para pemimpin dunia lainnya, misal di PBB maupun antar anggota G20. Saat itu, hubungan terasa lebih kompak, termasuk saat krisis pada 2008.

"Sekarang kohesi itu sudah tidak seperti dulu. Kehangatan, kadang-kadang bercanda di antara pemimpin G20, ada Bush, ada Obama, ada Putin, ada Hu Jintao, Xi Jinping, ada David Cameron, dan sebagainya. Sekarang no more, never again," ungkapnya saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10).

Dia mengatakan, sekarang ada kecenderungan penurunan multilateralisme dan kolaborasi, menjadi unilateralisme di mana para negara bertindak secara independen dan sepihak tanpa melalui kolaborasi.

Konsep unilateralisme ini, kata SBY, berujung pada setiap negara akhirnya mengutamakan kepentingan nasionalnya semata. Terutama kaitannya dengan masalah geopolitik, yang akhirnya mengorbankan komitmen penurunan emisi karbon global.

"Banyak sekali yang berpikiran ultranasionalis. G0, every country for itself, ini berbahaya. Karena akhirnya siapa yang menangani agenda global seperti sustainable development, seperti memerangi krisis iklim sekarang ini, siapa?" tegasnya.

Bahkan, SBY melihat para pimpinan negara lebih memilih menggelontorkan anggaran jumbo untuk sektor militer karena melihat kepentingan geopolitik lebih mendesak dibandingkan transisi energi.

"Uang secara global lebih banyak sekarang diarahkan membangun kekuatan militer untuk tujuan pengamanan geopolitik dan seterusnya. Bukan lagi untuk menangani isu lingkungan, mengurangi communicable diseases around the globe, untuk menyelesaikan pembangunan bangsa-bangsa berdasarkan konsep sustainable development," jelas SBY.

SBY bahkan menyebutkan segelintir pemimpin dunia tidak percaya terhadap isu lingkungan, jikalau ada pun tidak melakukan pergerakan. Ia menilai, berkurangnya desakan pimpinan negara terhadap isu perubahan iklim ini adalah tindakan tidak bermoral (immoral).

"Bagi saya, it is not only irresponsible, tapi juga immoral. Karena tahu buminya akan kiamat, karena tau masa depan generasi berikutnya lagi akan gelap," ungkapnya.

Namun demikian, ia tetap optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi model atas solusi isu perubahan iklim, alih-alih menjadi bagian dari masalah, dan bisa mengajak seluruh masyarakat internasional.

"Setiap pemimpin dunia, setiap negara, mesti punya visi yang jelas, right thinking, kemudian benar-benar punya policy yang pas dan enforceable. Kemudian dia bertanggung jawab dengan leadership-nya memastikan bahwa visi itu diimplementasikan, dan kemudian mengajak semuanya on board," kata SBY.