Kumparan Logo

Sebelumnya Laba, Garuda Indonesia Malah Rugi Rp 1,15 T di Semester I 2023

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Garuda Indonesia bersiap lepas landas membawa personel dan logistik serta peralatan dalam misi Bantuan Kemanusiaan Indonesia menuju Turki, dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Senin (13/2/2023). Foto: Dok. BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Garuda Indonesia bersiap lepas landas membawa personel dan logistik serta peralatan dalam misi Bantuan Kemanusiaan Indonesia menuju Turki, dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Senin (13/2/2023). Foto: Dok. BNPB

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan rugi bersih senilai USD 76,5 juta atau setara Rp 1,15 triliun (asumsi kurs Rp 15.112 per dolar AS) di semester I 2023. Perolehan rugi ini berbalik dari laba bersih senilai USD 3,76 miliar atau setara Rp 56,84 triliun pada semester I 2022.

Rugi bersih ini disebabkan rugi sebelum pajak senilai USD 109,56 juta atau setara Rp 1,65 triliun. Jika dilihat lebih rinci, pos tersebut karena adanya kerugian bersih selisih kurs senilai USD 22,47 juta atau setara Rp 339,68 miliar, berbalik dari keuntungan bersih selisih kurs senilai USD 79,97 juta atau setara Rp 1,2 triliun.

Tak hanya itu, beban keuangan Garuda Indonesia juga naik signifikan dari USD 209,87 juta di semester I 2022 menjadi USD 222,77 juta di semester I 2023.

Meski demikian, emiten maskapai penerbangan BUMN ini membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 58,96 persen menjadi USD 1,39 miliar atau setara Rp 21,1 triliun. Kenaikan pendapatan GIAA terjadi di seluruh bisnis.

Dirut Garuda, Irfan Setiaputra, di Komisi VI DPR RI, Selasa (13/6/2023). Foto: Nabil Jahja/kumparan

Seperti di pos penerbangan berjadwal naik menjadi USD 1,1 miliar, pos lainnya naik menjadi USD 151,37 juta, dan penerbangan tidak berjadwal naik menjadi USD 142,45 juta. Berdasarkan geografis, pendapatan domestik dari Jakarta menyumbang pendapatan terbesar senilai USD 1,07 miliar.

Lalu, pendapatan domestik dari Surabaya tercatat senilai USD 111,22 juta, Makassar senilai USD 72,51 juta dan Medan senilai USD 43,21 juta. Sedangkan untuk internasional, pendapatan dari Tokyo menduduki posisi tertinggi senilai USD 38,31 juta.

Kemudian, pendapatan segmen dari Amsterdam tercatat senilai USD 15,3 juta, Singapura senilai USD 14,16 juta, Sydney senilai USD 13,56 juta, dan Shanghai senilai USD 11,2 juta.

Adapun beban usaha Garuda Indonesia senilai USD 1,26 miliar di semester I 2023. Perolehan ini naik 4,06 persen dari USD 1,21 miliar di semester I 2022.

embed from external kumparan