Sederet Rencana BNI Tahun Ini: Ekspansi Luar Negeri & Terbitkan Green Bond

15 Maret 2022 20:16
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Menara BNI di Pejompongan, Jakarta Pusat. Foto: Dok. BNI
zoom-in-whitePerbesar
Menara BNI di Pejompongan, Jakarta Pusat. Foto: Dok. BNI
ADVERTISEMENT
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berencana melakukan serangkaian aksi korporasi dan rencana bisnis di tahun ini. Hal ini menyusul pencapaian laba bersih BNI tahun lalu melesat 232,2 persen year on year (yoy) sebesar Rp 10,89 triliun.
ADVERTISEMENT
Direktur Treasury dan International BNI, Henry Panjaitan, menjelaskan ekspansi bisnis BNI tahun ini tidak hanya menyasar domestik, tapi juga ke luar negeri. Dia memprediksi ekonomi global semakin membaik dengan market consensus di kisaran 4 persen.
Selain itu, beberapa negara maju sudah mengakselerasi pemulihan ekonomi di tahun ini, di mana perusahaan dunia dalam 2 tahun terakhir vakum ekspansi, saat ini mereka sudah gelontorkan dana untuk investasi. Pemulihan juga sudah terlihat di sektor manufaktur dan rantai pasok.
"Kami optimis potensi bisnis luar negeri kita, sekarang kami punya 6 kantor cabang luar akan lebih menjanjikan. Ada beberapa potensi seperti ekspor produk Indonesia, baik itu di segmen komersial, korporasi, dan UMKM akan lebih go global," ujar Henry saat konferensi pers virtual, Selasa (15/3).
ADVERTISEMENT
Selain itu, lanjut Henry, Indonesia memiliki 8 juta diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Sehingga, BNI sudah merancang beberapa program seperti diaspora saving, diaspora lending, serta diaspora remitansi dan investasi.
"Kami lihat ke depan bisnis luar negeri akan tumbuh," imbuhnya.
Dia memprediksi pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia berkisar 19-25 persen tahun 2022 ini. BNI pun mencanangkan volume ekspor naik dengan remitansi juga tumbuh 10 persen.
"Kita juga punya program sangat kuat yaitu BNI Xpora yang akan menghubungkan eksportir Indonesia segmen komersial atau UMKM dengan diaspora Indonesia di luar negeri," tutur dia.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Dalam kesempatan sama, Direktur Manajemen Risiko BNI, David Pirzada, membeberkan BNI akan menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan atau green bond tahun ini. Hal ini karena obligasi penawaran umum berkelanjutan (PUB) tahun 2017 akan jatuh tempo pada Juli 2022. Kondisi ini mengharuskan BNI mendapatkan pembiayaan kembali.
ADVERTISEMENT
"Sejalan dengan kebijakan OJK untuk mewujudkan sistem keuangan berkelanjutan, green bond ini menjadi salah satu strategi ESG kita. Hasil penerbitan ini nanti akan disalurkan kepada sektor-sektor yang termasuk kegiatan usaha berwawasan lingkungan (KUBL)," ungkap David.
Namun, dia menjelaskan waktu pelaksanaan penerbitan green bond ini akan melihat kondisi pasar dan persetujuan dari regulator walaupun BNI sudah menuangkannya ke dalam rencana bisnis bank tahun ini.
Dirut BNI, Royke Tumilaar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirut BNI, Royke Tumilaar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selesaikan Akuisisi Bank Mayora hingga Buyback Saham

Sementara itu, Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini, mengatakan BNI sudah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) soal akuisisi PT Bank Mayora. Targetnya, akuisisi penuh Bank Mayora akan dilakukan secepat mungkin di akhir April 2022.
"Harapannya, semua aktivitas berjalan lancar sehingga seluruh persetujuan dan persyaratan terkait pengambilalihan dapat kami lakukan dan selesai di akhir April atau awal Mei 2022," ujar Novi.
ADVERTISEMENT
Dalam RUPST ini, lanjut Novi, juga menyetujui pengalihan seluruh saham hasil pembelian kembali atau buyback tahun 2021 yang disimpan sebagai saham treasury sejumlah 24.682.600 saham.
"Buyback ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kepemilikan saham BBNI oleh karyawan atau manajemen, sehingga diharapkan meningkatkan nilai perusahaan dan mendorong capaian target kinerja. Buyback merupakan kelanjutan program kepemilikan saham dan manajemen atau ESOP saat ini," jelasnya.
Novi juga memaparkan proyeksi kinerja BNI tahun ini, yaitu pertumbuhan kredit berada di kisaran 7-10 persen, net interest margin BNI diprediksi berada di kisaran 4,6-4,8 persen, dan cost of credit antara 2-2,3 persen.