Kumparan Logo

Segudang Masalah Energi di RI: Kebiasaan Boros hingga Ketergantungan Impor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kilang minyak milik Pertamina di unit IV Foto: REUTERS / Darren Whiteside
zoom-in-whitePerbesar
Kilang minyak milik Pertamina di unit IV Foto: REUTERS / Darren Whiteside

Dunia mulai menghadapi masalah krisis energi. Terlebih lagi setelah aktivitas produksi sebagian besar negara berangsur pulih dari dampak pandemi COVID-19.

Tren tersebut dibarengi dengan melonjaknya kebutuhan energi untuk bahan baku industri. Sebut saja persoalan meroketnya harga gas dan batu bara di Eropa dan China.

Permasalahan sektor energi ini juga tak luput dialami Indonesia. Menurut Pakar Hukum ESDM, Ahmad Redi, tingginya angka impor minyak membuat pengaruh krisis energi global cukup signifikan terhadap Indonesia.

"Ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi kita itu bermasalah. Ada berbagai macam masalah, pertama bagaimana penurunan produksi minyak bumi yang masih memprihatinkan dan menggantungkan terhadap impor," jelas Ahmad dalam webinar krisis energi yang digelar Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Minggu (10/10).

Pakar Hukum Pertambangan Ahmad Redi. Foto: Dok. Ahmad Redi

Kondisi pertama ini, lanjutnya, kian diperburuk oleh terus terbengkalainya pembangunan kilang yang bisa menampung minyak. Padahal, wacana pembangunan kilang ini tak pernah absen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah.

Adapun permasalahan kedua, menurut Ahmad, masih rendahnya pemanfaatan energi domestik. Kemudian terbatasnya akses infrastruktur energi menjadi persoalan selanjutnya.

Sedangkan problema keempat, yakni belum kompetitifnya harga energi seiring dengan masih tingginya subsidi yang mesti ditanggung negara.

"Kemudian, bauran energi masih didominasi oleh minyak dan gas bumi, energi fosil termasuk batu bara. Produksi batu bara kita sangat masif," sambungnya.

Masalah selanjutnya, yakni masih rendahnya kesadaran akan efisiensi energi di tengah masyarakat. Kebiasaan boros energi ini membikin mimpi berdaulat menjadi semakin jauh saja.

"Negara kita kesadaran masyarakat masih rendah, boros energi masih tinggi dan ini sebenarnya bahaya dalam jangka panjang. Perilaku boros energi, kesadaran energi tidak baik ini mengancam kedaulatan energi kita," tutur Ahmad Redi.