Kumparan Logo

Sekolah di AS Terkuras Anggarannya Imbas Solar Mahal karena Perang di Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Aerial Viewer/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Aerial Viewer/Shutterstock

Lonjakan harga solar sejak pecahnya perang Iran menguras anggaran distrik sekolah di Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya sudah terbatas. Kondisi itu membuat biaya transportasi siswa dan operasional generator menjadi jauh lebih mahal, yang sulit ditanggung dalam jangka panjang.

Mengutip Reuters, distrik sekolah mulai dari Yakima, Washington, hingga Waco, Texas, kini menggunakan dana cadangan darurat agar armada bus tetap beroperasi. Sementara di Alaska yang terpencil, para pejabat berupaya keras memastikan pasokan bahan bakar cukup untuk menjaga listrik tetap menyala.

“Ini bukan lagi sekadar beban tambahan, ini seperti tumpukan jerami besar,” kata Superintendent Yakima, Trevor Greene.

Tekanan tersebut menjadi salah satu efek lanjutan dari perang AS-Israel melawan Iran yang mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sejak perang dimulai pada akhir Februari, harga bahan bakar mengalami salah satu kenaikan tercepat dalam sejarah. Lonjakan tersebut mengguncang perekonomian global dan mulai menimbulkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Operator bus sekolah di AS merupakan pengguna utama solar dengan konsumsi lebih dari 800 juta galon setiap tahun, menurut American School Bus Council. Sejak Desember, harga solar yang dibayar armada kendaraan di AS melonjak 67 persen menjadi USD 5,52 per galon.

Berdasarkan analisis terbaru perusahaan teknologi manajemen armada Samsara, kenaikan tersebut berpotensi menambah biaya operasional bus sekolah sekitar USD 1,8 miliar per tahun.

Direktur Eksekutif Association of School Business Officials International, James Rowan, mengatakan kondisi itu menjadi tantangan besar bagi sekolah yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan anggaran.

“Distrik dapat merencanakan biaya yang lebih tinggi, tetapi perubahan harga yang cepat membuat penyusunan anggaran menjadi sangat sulit,” ujar James.

“Bahkan distrik yang tahun ini masih mampu menanggung biaya tambahan melalui cadangan atau langkah sementara, kemungkinan tidak memiliki fleksibilitas yang sama di masa mendatang," tambahnya.

Survei terhadap 188 pejabat sekolah yang dilakukan School Superintendents Association (AASA) pada Mei menunjukkan hampir sepertiga distrik sekolah di AS mulai mengalihkan dana dari program lain untuk menutup kenaikan biaya bahan bakar. Sementara hampir seperlima lainnya menggunakan dana cadangan.

Pejabat sekolah juga mulai menerapkan berbagai langkah penghematan, seperti menggabungkan rute bus, menerapkan aturan pembatasan mesin menyala saat berhenti, mengubah strategi pembelian bahan bakar, menunda perawatan, serta mengurangi belanja administrasi dan tenaga kerja.

Pejabat Distrik Sekolah Yakima di Washington mengatakan harga solar yang mereka bayar naik 64 persen secara tahunan menjadi USD 6,30 per galon. Dengan harga tersebut, distrik perlu mengeluarkan tambahan sekitar USD 213.000 per tahun untuk mengoperasikan 60 bus sekolah, setara dengan gaji dua guru.

Hal itu menjadi beban besar bagi distrik yang sebagian besar wilayahnya bergantung pada sektor pertanian dan memiliki tingkat kemiskinan 86 persen.

Saat ini distrik tersebut membeli solar sedikit demi sedikit ketika harga turun, alih-alih mengisi penuh tangki diesel berkapasitas 30.000 galon.

“Kami bertahan sampai akhir tahun,” kata Chief Financial Officer distrik, Jacob Kuper.

Sementara itu, Superintendent Thief River Falls Public Schools di Minnesota, Christopher Mills, mengatakan biaya solar untuk mengangkut sekitar 800 siswa telah naik sekitar 30 persen sejak perang Iran dimulai.

Menurutnya, sekolah berupaya agar dampaknya tidak langsung mengenai ruang kelas. “Namun jika harga terus meningkat, kami mungkin berada pada situasi harus mengurangi layanan pendukung bagi siswa," ungkapnya.

Bahkan sekolah di Texas yang merupakan wilayah penghasil minyak juga tidak luput dari dampaknya. Distrik Sekolah Independen Waco yang mengoperasikan lebih dari 80 bus dan rata-rata menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 60 mil per hari mencatat kenaikan harga solar sebesar 84 persen secara tahunan pada awal April.

Tekanan Berat di Alaska

Di Distrik Sekolah Yupiit, Alaska bagian barat daya, solar tidak digunakan untuk bus, tetapi untuk pemanas ruang kelas dan generator listrik komunitas.

“Jika mereka tidak bisa memproduksi listrik, maka kami tidak bisa menjalankan sekolah,” kata Superintendent Distrik Yupiit, Scott Ballard.

Distrik tersebut melayani sekitar 550 siswa dan sebagian besar wilayahnya tertutup es hampir sepanjang tahun, sehingga waktu untuk mengirim pasokan bahan bakar sangat terbatas.

Kini para pemimpin distrik dihadapkan pada pilihan sulit, apakah mengunci harga yang hampir 66 persen lebih mahal dibanding tahun lalu atau berspekulasi menunggu harga turun.

“Kami berada dalam situasi dengan tekanan yang sangat tinggi," kata Scott Ballard.

Di sisi lain, beberapa distrik sekolah terbesar di AS relatif lebih terlindungi dari lonjakan harga bahan bakar. Distrik New York City mengalihdayakan sekitar 60 persen layanan transportasi siswa sehingga risiko kenaikan harga bahan bakar banyak ditanggung kontraktor.

Sedangkan Distrik Los Angeles Unified, distrik sekolah terbesar kedua di AS, telah mengurangi kebergantungan pada bus diesel selama beberapa tahun terakhir. Dari sekitar 1.300 armada bus yang dimiliki, sebanyak 70 persen kini menggunakan bahan bakar alternatif atau tenaga baterai.

Perang Iran Picu BBM Mahal, Basis Pendukung Trump Disebut Masih Solid

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media sebelum menaiki Air Force One untuk keberangkatan ke Miami, Florida, di Bandara Internasional Palm Beach di West Palm Beach, Florida, AS, Sabtu (2/5/2026). Foto: Nathan Howard/REUTERS

Perang antara AS dengan Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar belum menggerus dukungan Donald Trump di sejumlah wilayah pedesaan AS. Meski biaya hidup meningkat, sebagian pendukungnya tetap menilai tekanan ekonomi saat ini sepadan demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Mengutip Reuters, di Wiggins, kota pertanian kecil berpenduduk sekitar 1.400 orang di timur laut Colorado, warga mulai merasakan dampak kenaikan harga bensin yang disebut meningkat hampir setiap hari.

Amy Van Duyn, pegawai toko minuman, mengatakan harga bensin kini mencapai USD 4,34 per galon atau sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding saat Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu.

“Dulu saya mengisi penuh tangki mobil dengan USD 36. Sekarang USD 36 hanya dapat setengah tangki," kata Van Duyn.

Rekan kerjanya, Tonyah Bruyette, mengaku kenaikan harga kebutuhan energi ikut menggerus pengeluaran rumah tangga. “Kami memasukkannya ke tangki bensin, bukan ke meja makan kami," ungkap Bruyette.

Meski demikian, keduanya masih menjadi pendukung kuat Trump. Pada pemilu 2024 lalu, Trump menang telak di Morgan County dengan selisih 49 poin persentase.

Di tingkat nasional, tekanan terhadap Trump meningkat setelah konflik Iran mendorong harga bahan bakar menembus USD 4,50 per galon secara nasional. Survei Reuters/Ipsos bulan lalu menunjukkan hampir 8 dari 10 warga AS menilai Trump bertanggung jawab atas kenaikan harga bensin.

Saat ditanya apakah tekanan ekonomi masyarakat mendorongnya mencapai kesepakatan dengan Teheran, Trump menegaskan fokusnya bukan pada kondisi finansial masyarakat.

“Saya tidak memikirkan kondisi keuangan warga Amerika,” jawab Trump.

"Satu-satunya hal yang penting ketika saya berbicara tentang Iran adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," imbuhnya.

Pernyataan itu mendapat kritik dari Partai Demokrat yang menilai pemerintahan Trump mulai menjauh dari kekhawatiran masyarakat soal ekonomi. Meski begitu, sejumlah pemilih di wilayah Colorado tetap menilai kenaikan harga energi merupakan konsekuensi yang dapat diterima.

Jim Miller, mantan pialang komoditas berusia 65 tahun yang tinggal di Prospect Valley, mengatakan tekanan harga bahan bakar saat ini masih layak ditanggung jika bertujuan mencegah ancaman nuklir dari Iran.

“Saya berjuang, seperti semua orang, tetapi saya bersedia berkorban sedikit. Hal itu benar-benar hilang di negara ini, yaitu kemauan orang-orang untuk berkorban," kata Miller.

Pandangan serupa juga muncul dari Mike Urbanowicz, pelaku usaha di sektor pertanian yang mengaku tetap memilih Trump meski menilai presiden terlalu optimistis dalam mengatasi persoalan harga energi.

“Saya memilih Trump karena alternatifnya sangat buruk,” katanya.

Di sisi lain, warga lain juga menilai konflik dengan Iran memang sulit dihindari. Lexys Siebrands, pemilih Trump berusia 22 tahun, menganggap situasi tersebut pada akhirnya akan terjadi.

“Sesuatu pasti akan terjadi cepat atau lambat, entah Iran melakukan sesuatu kepada kami atau kami yang melakukannya kepada mereka," kata Siebrands.