Sengketa di Properti, Surya Paloh dan China Sonangol Masih Berkongsi di Migas
ยทwaktu baca 2 menit

Hubungan bisnis antara pemilik Media Group Surya Paloh dan China Sonangol di sektor properti merenggang usai ada sengketa di proyek Gedung Indonesia 1. Namun, kedua pihak masih berkongsi di bisnis minyak dan gas (migas).
Kongsi Surya Paloh dan China Sonangol di bisnis migas terjadi di Blok Cepu, Bojonegoro melalui PT Surya Energi Raya (SER) dan Sonangol EP. Kerja sama ini terjalin sejak 2009 lalu.
"Beberapa proyek masih berjalan normal. Masih (termasuk di Blok Cepu). Yang dispute adalah yang di proyek Indonesia 1," kata CEO Media Group, Mohammad Mirdal Akib, kepada kumparan, Rabu (11/8).
Berdasarkan catatan kumparan, bisnis Surya Paloh dan China Sonangol di Blok Cepu dimulai dengan memberikan pinjaman kepada PT Asri Dharma Sejahtera, BUMD milik Pemda Kabupaten Bojonegoro pada 2009.
Saat itu, PT Asri Dharma Sejahtera merupakan salah satu dari empat BUMD yang memiliki jatah hak partisipasi (participating interest/PI) di Blok Cepu sesuai aturan pemerintah. Total PI untuk empat BUMD itu 10 persen dan PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) mengempit paling besar 4,5 persen karena sebagian besar wilayah eksplorasi dan eksploitasi Blok Cepu ada di Bojonegoro.
Untuk bisa memiliki PI di Blok Cepu, BUMD harus membelinya. Namun, saat itu Pemda Kabupaten Bojonegoro tidak punya uang. Peluang inilah yang dijadikan kesempatan Surya Paloh melalui PT Surya Energi Raya (SER) untuk menjadi mitra dengan memberikan modal USD 200 juta yang uangnya berasal dari China Sonangol.
Namun, tahun lalu SER dan ADS sempat berseteru. Pihak SER menuntut adanya pengembalian investasi Blok Cepu yang selama ini berasal dari SER.
Pada 2014, Surya Paloh dan China Sonangol kembali berduet. Kala itu, mereka menawarkan ke Presiden Jokowi agar Indonesia impor minyak mentah dari Angola, Afrika, dengan harga murah.
Surya Paloh pun mempertemukan Jokowi dengan Sam Pa, salah satu petinggi China Sonangol ke kediaman Jokowi yang saat itu masih di Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta.
Jokowi pun setuju impor minyak dari Angola dengan menunjukkan Sonangol EP sebagai pemasoknya. Alasannya saat itu untuk mengurangi trader impor di Petral.
Pada Oktober 2015, Sam Pa yang menjadi penghubung ke Sonangol EP ditangkap Kepolisian China karena terjerat kasus hukum dan pelanggaran. Dia ditangkap sehari setelah pemerintah China mengumumkan melakukan penyelidikan terhadap Gubernur Provinsi Fujian, Su Shulin.
