kumparan
15 Februari 2020 19:01

Sensus Penduduk Dilakukan Online, Bagaimana Kalau Gaptek dan Tak Punya Internet?

Ilustrasi wanita sedang berselancar di internet Foto: Pixabay
Sensus Penduduk 2020 resmi dibuka per hari ini hingga 31 Maret 2020 secara online. Badan Pusat Statistik sebagai penyelenggara telah menyediakan situs untuk masyarakat mengisi sendiri 22 pertanyaan dalam sensus kali ini.
ADVERTISEMENT
Ini merupakan metode pengisian sensus pertama dalam sejarah, menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Sensus penduduk online menyasar anak muda yang akrab dengan teknologi, para Aparatur Sipil Negara (ASN) pun diwajibkan mengisi sensus sendiri.
Tapi tak semua orang akrab dengan teknologi, dan belum semua daerah punya akses internet yang bagus. Karena itu, selain pengisian secara online, BPS juga masih menyelenggarakan sensus penduduk secara manual seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sensus manual akan dilakukan oleh petugas sensus dari rumah ke rumah, terutama di provinsi yang masyarakatnya tertinggal dari kemajuan internet.
"Untuk sensus penduduk periode kedua secara manual, door to door mulai 1 Juli hingga 31 Juli 2020," kata Sekretaris Utama (Sestama) BPS Adi Lumaksono di Gedung BPS, Jakarta, Sabtu (15/2).
ADVERTISEMENT
Sensus penduduk secara manual akan dibantu oleh petugas sensus. Sebanyak 390 ribu orang diperbantukan.
Sebelum menyensus, mereka akan diseleksi dulu pada April mendatang. Lalu akan dilatih mulai Mei hingga Juni sebelum akhirnya turun ke lapangan selama sebulan pada Juli 2020.
Karena pengisian sensus sudah bisa dilakukan secara online, maka sensus manual pun bakal menggunakan alat bantu seperti handphone atau tablet yang disediakan BPS. Jadi, para petugas akan membantu mengisi jawaban penduduk lewat gadget.
Sensus Penduduk 2020 #MencatatIndonesia di Gedung BPS, Jakarta. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Meski begitu, bagi daerah yang belum terjangkau internetnya seperti di pegunungan, isi pertanyaannya tetap menggunakan kertas secara manual. Hanya saja, kertasnya bisa langsung di-scan. Jadi begitu selesai diisi nanti bisa di-scan. Input data di pusat tak manual.
ADVERTISEMENT
"Ini mempercepat proses pengumpulan data, Insya allah Januari 2021 kita sudah bisa rilis hasil sensusnya," kata Adi.
Sensus penduduk sudah dilakukan BPS sejak 1961 atau sudah 7 kali hingga tahun ini. Sensus penduduk 2020 akan menjadi data pemerintah terkait kependudukan mulai dari menyediakan parameter demografi seperti fertilitas, demografi, dan indikator pembangunan berkelanjutan atau Suistanable Development Goals (SDGs) yang akan sangat menentukan perencanaan pembangunan Indonesia di berbagai bidang.

23 Persen Warga Indonesia Ditargetkan Isi Sensus Penduduk Secara Online

Pengisian sensus secara online dilakukan mengikuti perubahan zaman. Sebab perkembangan teknologi saat ini maju pesat dibandingkan sepuluh tahun lalu. BPS pun berharap banyak penduduk yang mengisi sensus ini secara online.
"Target kita bisa menjangkau 23 persen penduduk (yang isi sensus penduduk secara online dari total 200 juta penduduk Indonesia)," ujar Adi Lumaksono.
ADVERTISEMENT
Agar makin banyak masyarakat yang tahu penyensusan penduduk bisa diisi secara online oleh warga, BPS menggaet banyak pihak, salah satunya milenial.
Dalam sosialisasi yang diadakan hari ini, ada 300 milenial terpilih. Mereka umumnya merupakan pelajar SMA dan mahasiswa. Mereka akan diminta turun ke jalan untuk penyuluhan sensus penduduk secara online.
Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pusat Statistik Adi Lumaksono usai Meluncurkan Sensus Penduduk Online 2020 di Gedung BPS, Jakarta, Sabtu (15/2). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Selain itu, tokoh terkenal pun direkrut BPS. Mulai dari penyanyi sekelas Didi Kempot hingga Aa Gym.
"Paling tidak misalnya Didik Kempot (sobat) ambyar sudah. Lalu bupati, gubernur, tokoh agama, Aa Gym itu sudah kita ajak untuk berikan komentarnya. Pak Presiden (Joko Widodo) juga sudah kasih ajakan di iklan masyarakat," tuturnya.

Sensus Penduduk 2020 Butuh Rp 4 Triliun

Dalam penyelenggaran sensus penduduk secara online dan manual, BPS menganggarkan uang Rp 4 triliun. Biaya tersebut dialokasikan ke berbagai pos, mulai dari menyeleksi petugas sensus hingga proses sensus selesai.
ADVERTISEMENT
Diakui Adi, biaya sensus penduduk kali ini lebih mahal karena ada investasi teknologi di awal. Akan tetapi, diharapkan sebanding dengan proses pengumpulan data yang cepat dan real time.
"Sebenarnya di kita termasuk paket murah dibandingkan dengan Australia yang sensusnya online juga. Di kita dari biaya Rp 4 triliun dibagi 200 juta penduduk dan kebutuhan lainnya, per jiwa hanya Rp 14 ribu. Kalau di Australia bisa Rp 1,4 juta," jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan