Kumparan Logo

Sepak Terjang Silmy Karim, Dirjen Imigrasi Terpilih yang Punya Harta Rp 209 M

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim. Foto:  Krakatau Steel
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim. Foto: Krakatau Steel

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) Silmy Karim terpilih menjadi Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM. Dia akan dilantik pada Awal Januari 2023.

Ia lolos setelah melewati berbagai seleksi mulai dari administrasi/rekam jejak, kompetensi bidang (penulisan makalah), kompetensi manajemen dan sosial kultural (asesmen), hingga wawancara.

“Betul (terpilih). Dilantik awal Januari," katanya saat dihubungi kumparan, Senin (26/12).

Dengan posisi barunya nanti, secara otomatis, kata Silmy, jabatannya di Krakatau Steel lepas. Dia mengalahkan dua nama yang sebelumnya terpilih di tahap akhir, yaitu Lucky Agung Binarto dan Julexi Tambayong.

Lalu bagaimana sepak terjang Silmy Karim dibidang profesional hingga terpilih menjadi pejabat di Kemenkum HAM?

embed from external kumparan

Pria 47 tahun itu sudah berkarier di BUMN selama 11 tahun terakhir, sebelum memilih ikut seleksi terbuka calon Dirjen Imigrasi. Posisinya di BUMN pun, selalu di manajemen tertinggi (top management). Yakni dimulai pada 2011-2014 sebagai Komisaris PT PAL. Kemudian bergeser sebagai Dirut di tiga BUMN berbeda, yakni Pindad (2014-2016), Barata Indonesia (2016-2018), Krakatau Steel (Sejak 2018).

Mulai menduduki jabatan tinggi di BUMN sejak 2011 silam, lantas berapa pundi-pundi kekayaan yang dikumpulkan Silmy Karim?

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2021 yang dipublikasikan secara terbuka oleh Komisaris Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaan Silmy Karim mencapai Rp 208,89 miliar.

Harta tersebut terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp 145,01 miliar. Aset ini beberapa di antaranya seperti tanah dan bangunan seluas 743 m2/863 m2 di Jakarta Selatan yang didapat dari hasil sendiri dengan nilai Rp 29,49 miliar.

Direktur Utama PT. Krakatau Steel, Silmy Karim ketika mengunjungi kantor kumparan. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Lalu ada aset tanah dan bangunan seluas 304 m2/220 m2 di Jakarta Selatan yang didapat dari warisan senilai Rp 25 miliar. Kemudian ada tanah dan bangunan seluas 1.860 m2/853 m2 di Jakarta Selatan yang didapat dari hasil sendiri senilai Rp. 29,97 miliar.

Selanjutnya, harta kekayaan Silmy Karim dari alat transportasi dan mesin mencapai Rp 2,97 miliar. Beberapa aset tersebut di antaranya seperti mobil Mercedes Benz 280E tahun 1979 senilai Rp 500 juta, mobil Land Rover tahun 1996 senilai Rp 500 juta, atau seperti motor Harley Davidson tahun 1998 senilai Rp 450 juta.

Dilaporkan juga harta kekayaan Silmy Karim berupa harta bergerak lainnya mencapai Rp 7,2 miliar, surat berharga senilai Rp 9,5 miliar, kas dan setara kas mencapai Rp 53,21 miliar.

Selanjutnya juga tercatat utang mencapai Rp 9 miliar. Dengan begitu, total harta kekayaan Silmy Karim yang dilaporkan LHKPN tahun 2021 lalu mencapai Rp 208,89 miliar.

Kekayaan Terus Melesat Sejak 2018

Silmy Karim pada 2018 lalu menduduki bos BUMN paling tajir. Laporan LHKPN tahun 2017 melaporkan kekayaan Silmy Karim waktu itu mencapai Rp 189,45 miliar. Di tahun ini, jumlah pundi-pundi kekayaannya sudah tembus Rp 200 miliar lebih.

Dengan harta kekayaan tertinggi, Silmy Karim bukanlah profesional yang berasal dari industri keuangan. Ia lebih banyak berkecimpung dalam dunia industri strategis hingga tembakau, bahkan pernah menjabat tim analis di Badan Intelijen Negara (BIN).

Sebelum memegang posisi Dirut Krakatau Steel, ia juga pernah menjabat sebagai dirut dan komisaris pada tiga perusahaan pelat merah lainnya, yakni Komisaris PAL Indonesia periode Juni 2011-Desember 2014, Dirut PT Pindad (Persero) periode Desember 2014-Agustus 2016 dan Dirut PT Barata Indonesia (Persero) periode Agustus 2016-September 2018.

Di sektor swasta, pria lulusan Master of Economics dari Universitas Indonesia (UI) ini pernah menjadi direksi di PT Bina Guna Kimia, kemudian komisaris di Carrefour, PT MAN Diesel dan Turbo Indonesia.