Sepanjang 2017, Semen Padang Catatkan Laba Rp 400 Miliar

Industri semen nasional saat ini tengah menghadapi masa sulit. Tingginya biaya produksi yang tak berbanding dengan jumlah permintaan di pasaran membuat laba perusahaan semen tergerus labanya.
Hal itu juga diakui PT Semen Padang. Pada 2017, perusahaan mengaku mengalami masa sulit karena industri semen yang mengalami turbulensi akibat sengitnya kompetisi dan rendahnya permintaan.
Meskipun demikian, Semen Padang mengaku bisa melewati masa tersebut dan tetap mencatatkan kinerja yang cukup baik.
"Perseroan bisa bertahan dengan performance yang masih baik dan meraih berbagai prestasi," demikian dalam keterangan tertulis perusahaan, Kamis (18/1).
Selama 2017, PT Semen Padang mampu mencapai produksi sebanyak 7.444.143 ton dari target 7.433.900 ton. Produksi tahun 2017 ini tercapai 115,30 % dibandingkan tahun 2016, sebesar 6.456.059 ton.
Sementara dari sisi penjualan, selama 2017 volume penjualan PT Semen Padang sebesar 7.706.870 ton atau 92,20 % dari target sebesar 8.359.000 ton. Dibandingkan 2016, volume penjualan ini masih lebih tinggi 10,40 % atau sebesar 6.980.615 ton.
"Selama 2017, PT Semen Padang mencatatkan laba sebesar Rp 400 miliar. Pada 2018 ini, PT Semen Padang menargetkan pencapaian laba sebesar Rp 600 miliar."
Sebelumnya pada 2014, Semen Padang pernah mengalami masa keemasannya. Pada periode tersebut, perusahaan semen pertama di Asia Tenggara ini sukses mencatatkan laba tertinggi sejak seabad lebih berdiri, yakni di atas Rp 1 triliun.
Namun pasca itu, laba terus menurun. Kondisi tersebut dipicu bertambahnya pemain dalam industri semen nasional. Pada 2013, hanya ada 9 pemain semen nasional, namun pada 2017 meningkat menjadi 17 pemain yang tidak hanya perusahaan milik pemodal dalam negeri, tapi juga pemain internasional.
Para pemain baru itu juga meningkatkan kapasitas produksi. Di sisi lain, demand nasional tidak bertumbuh positif. Imbasnya pada 2017, dengan total kapasitas produksi sebanyak 106 juta ton dan demand hanya 71 ton, seluruh perusahaan semen ketar-ketir.
"Kondisi ini diperparah kenaikan harga pokok produksi. Ketika terjadi perang harga di pasaran, para pemain lain memilih menurunkan harga, hingga melakukan lay off terhadap karyawan."
