Kumparan Logo

Sepinya Mal di Hari Pertama Buka Dinilai karena Daya Beli Belum Membaik

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung mengenakan masker saat hari pertama pembukaan kembali pusat perbelanjaan di Pondok Indah Mal, Jakarta, Senin (15/6). Foto: Aprillio Akbar/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung mengenakan masker saat hari pertama pembukaan kembali pusat perbelanjaan di Pondok Indah Mal, Jakarta, Senin (15/6). Foto: Aprillio Akbar/Antara Foto

Dibukanya kembali mal atau pusat perbelanjaan di DKI Jakarta setelah tutup, tidak membuat masyarakat langsung ramai-ramai mengunjunginya. Padahal salah satu tujuan dibukanya mal adalah untuk menggerakkan perekonomian.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menganggap, tujuan dibukanya mal agar ekonomi membaik memang tidak gampang. Ia merasa saat ini daya beli masyarakat masih belum membaik.

“Mal ini dibuka untuk mendorong masyarakat umum berbagai kelas berbelanja di mal, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana daya beli masyarakat sendiri. Sederhananya mal dibuka tapi seandainya tidak punya uang bagaimana belanja di mal?” kata Yusuf saat dihubungi, Selasa (16/6).

Yusuf menjelaskan, pendapatan masyarakat sepanjang kuartal I sampai mendekati kuartal II banyak yang hilang karena virus corona. Hal itu tentu menjadi tantangan untuk memulihkan perekonomian dengan daya beli yang belum pulih.

Suasana Mal Pejaten Village, Senin (15/6). Foto: Pejaten Village

Selain itu, Yusuf mengakui masih ada masyarakat yang khawatir terpapar virus corona kalau belanja di mal. Apalagi, kata Yusuf, data secara nasional terkait masyarakat yang kena corona masih belum melandai.

“Kalau masyarakat menegah ke atas saya melihatnya mereka kecenderungannya melihat apakah saat ini sudah relatif aman untuk pergi ke mal,” ujar Yusuf.

Untuk itu, pengelola mal harus bisa meyakinkan masyarakat dengan protokol kesehatan yang disiapkan termasuk untuk para karyawan. Meski begitu, Yusuf tidak mau menganggap kondisi di hari pertama sebagai kesimpulan mal bakal selalu sepi. Menurutnya memang perlu waktu untuk mal ramai kembali.

“Sebenarnya kita juga harus fair melihatnya karena kan kemarin itu kenapa belum ramai karena hari pertama, artinya memang perlu periode waktu yang panjang kira-kira bagaimana tanggalan masyarakat untuk melihat seberapa aman untuk kemudian pergi berbelanja di mal atau sekadar kumpul atau makan bareng. Itu memang catatan penting,” ungkap Yusuf.