Serikat Buruh: WFH Buat Atasi Polusi Aneh, Banyak Pekerja Kehilangan Pekerjaan
·waktu baca 2 menit

Memburuknya kualitas udara Jakarta membuat wacana bekerja hybrid dan bekerja dari rumah (WFH) menguat. Ini juga salah satunya disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam ratas di Istana Negara.
Menanggapi itu, salah satu serikat buruh, Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia menentang opsi tersebut. Menurut Presiden Aspek Indonesia Mirah Sumirat, justru ada banyak buruh terancam kehilangan penghasilan bila harus kembali WFH.
"Kami menilainya sebagai kebijakan yang lucu dan aneh! Kajian apa yang dipakai oleh Presiden Joko Widodo hingga bisa menyimpulkan bahwa WFH akan bisa mengatasi polusi udara?" ujar Mirah dikutip dari keterangan resminya, Jumat (18/8).
Mirah menilai kebijakan WFH tidak akan efektif buat menekan polusi udara Jakarta dan sekitarnya. Justru hanya akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan bikin buruh kehilangan pekerjaan.
"Berpotensi membuat banyak pekerja akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan," tuturnya.
Sebelumnya, usai memimpin rapat terbatas membahas soal polusi udara, Senin (14/8), Presiden Jokowi juga mengimbau perusahaan untuk mendorong hybrid working bagi para pegawai mereka.
"Dan jika diperlukan kita harus berani mendorong banyak kantor melaksanakan hybrid working. Work from office, work from home," ujar Jokowi.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno akan memberlakukan aturan bekerja dari rumah atau WFH (Work From Home) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansinya.
Ia menyebut penerapan WFH untuk pegawai Kemenparekraf akan ditetapkan dalam satu hingga dua minggu ke depan. Ada pun panduannya, empat hari WFH serta satu hari bekerja di kantor atau Work From Office (WFO)
