Kumparan Logo

Seskab Teddy soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Investasi Masuk Rp 2.430 T

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya. Foto: Instagram/ @sekretariat.kabinet
zoom-in-whitePerbesar
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya. Foto: Instagram/ @sekretariat.kabinet

Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya mengungkapkan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri menciptakan komitmen investasi Rp 2.430 triliun dalam kurun waktu 1,5 tahun menjabat.

Melalui unggahan di akun Instagram @sekretariat.kabinet Senin (1/6), Teddy merespons kritik yang disampaikan Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi lawatan Prabowo yang dinilai terlalu sering.

Teddy membantah kalau lawatan Prabowo hanya berupa seremonial semata. Dia mencontohkan beberapa hasilnya dalam 1,5 tahun ke belakang. Misalnya, Indonesia bisa masuk dalam keanggotaan BRICS yang bertujuan menjamin keamanan stok energi dan pangan.

Kemudian, Pemerintah Indonesia akhirnya bisa meneken perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, sehingga barang Indonesia tidak dikenakan tarif impor alias 0 persen oleh 25 negara.

"Ketiga, total investasi yang masuk dalam satu setengah tahun ini adalah sekitar Rp 2.430 triliun. Itu data dari BKPM (Kementerian Investasi dan Hilirisasi)," ungkap Teddy, dikutip pada Selasa (2/6).

Contoh konkret investasi ini, lanjut Teddy, yakni saat kunjungan ke Korea Selatan dan Jepang pada bulan lalu. Ia menyebut Prabowo saat itu dapat membawa investasi langsung sekitar Rp 575 triliun.

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron hadiri forum bisnis RI-Prancis. Foto: Tim Media Presiden

Teddy menekankan seluruh lawatan tersebut diperlukan karena Prabowo merupakan presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Setelah konflik antara Rusia dan Ukraina, AS dan Venezuela, kemudian ditambah pecahnya perang antara AS-Israel dengan Iran pada awal tahun ini di Timur Tengah dan melibatkan Arab Saudi, Qatar, hingga UAE.

Menurutnya, Indonesia perlu memanen hubungan yang baik dengan pemimpin dunia lain, apalagi ketika ketidakpastian ekonomi dan politik internasional yang dinamis, sehingga tidak hanya mengandalkan bantuan ketika krisis terjadi.

"Bila suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya. Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup. Nah itulah diplomasi," tutur Teddy.

video story embed