Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Siapkan Rp 3 Triliun untuk Buyback, Strategis BBRI Jaga Stabilitas Saham
24 Maret 2025 16:50 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Langkah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI melakukan pembelian kembali buyback saham dinilai menjadi komitmen perusahaan melindungi kepentingan investor publik.
ADVERTISEMENT
BRI melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2025 hari ini, Senin (24/3). Salah satu mata acaranya adalah persetujuan atas rencana pembelian kembali saham dan pengalihan saham hasil buyback yang disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock) perseroan.
Rencananya, jumlah nilai seluruh buyback diperkirakan sebesar-sebesarnya Rp 3 triliun dan akan diselesaikan paling lama 12 bulan sejak tanggal RUPST.
Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, mengatakan kebijakan buyback saham bisa dilihat sebagai langkah menstabilkan harga saham yang saat ini tengah undervalue.
"Buyback dapat menjadi salah satu langkah untuk menstabilkan harga saham. Ketika harga saham undervalue, maka perusahaan akan melakukan buyback untuk menunjukkan bahwa bisnis perusahaan masih baik," jelasnya kepada kumparan, Senin (24/3).
ADVERTISEMENT
Trioksa menjelaskan, buyback saham BRI bisa menjadi berita baik bagi para investor ritel, sebab perseroan berkomitmen menjaga penurunan harga saham yang berkelanjutan ke depannya.
"Buyback dapat menjaga penurunan harga saham dan merupakan berita baik bagi investor ritel bahwa perusahaan juga melihat harga sahamnya masih undervalue," tuturnya.
Sementara itu, Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai dampak buyback terhadap investor ritel dan institusi akan terbatas jika tidak dibarengi oleh sinyal perbaikan fundamental yang kuat.
Dengan begitu, meskipun harga saham terlihat murah secara valuasi, keputusan investasi di BRI harus mempertimbangkan faktor makro, tekanan sektor, dan rencana manajemen dalam menjaga profitabilitas ke depan.
"Untuk saat ini, investor menilai aksi tersebut sebagai penegasan bahwa manajemen sedang mencoba menahan laju penurunan harga di tengah prospek yang masih penuh tantangan," tutur Arianto.
Buyback saham, kata Arianto, memang bisa diartikan sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap valuasi sahamnya. Namun dalam situasi sekarang, menurutnya, langkah ini lebih mencerminkan kehati-hatian manajemen dalam mengelola tekanan pasar.
ADVERTISEMENT
"Prospek bisnis BBRI dalam jangka panjang tetap menjanjikan, namun buyback sendiri tidak cukup kuat menjadi sinyal optimisme jika tidak diiringi dengan strategi konkret menghadapi penurunan margin, kompetisi likuiditas, dan dinamika sektor keuangan digital yang terus bergerak cepat," ujar Arianto.
Dengan demikian, Arianto menilai perseroan tetap harus mengambil langkah ekstra di tengah tantangan tekanan margin dan ketatnya likuiditas di sektor perbankan.
"Potensi pertumbuhan tetap ada, namun investor perlu mencermati apakah aksi ini diikuti oleh strategi bisnis yang mampu mendorong pemulihan kinerja secara fundamental," ucapnya.
RUPST BRI hari ini juga akan membahas dan menetapkan penggunaan laba bersih perseroan tahun buku 2024. BRI mencatat laba tahun berjalan konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp 60,15 triliun.
ADVERTISEMENT
Laba bersih tersebut akan digunakan untuk dividen dan laba ditahan. Rencananya, perseroan akan membagikan dividen dengan payout ratio sekurang-kurangnya sebesar 85 persen, termasuk dividen interim yang telah dibayarkan. Pada tanggal 15 Januari 2025, perseroan telah membagikan dividen interim sebesar Rp 135 per saham atau sebesar Rp 20,33 triliun.