Siasat Bisnis Kuliner Tetap Cuan di Masa Pandemi Ala Cici Claypot

Bisnis kuliner memang tak ada matinya. Usaha di sektor makanan dan minuman memang dituntut untuk cepat beradaptasi, kreatif dan konsisten. Mungkin cerita inspiratif dari Food Blogger yang kini menekuni usaha kuliner, Shasya Pashatama dapat menjadi panduan bagi kalian yang saat ini menggeluti bisnis kuliner.
Shasya merupakan pemilik Cici Claypot menceritakan tantangan bisnisnya saat pandemi.
Sebagai informasi, Cici Claypot merupakan makanan yang dimasak dengan menggunakan tanah liat serta menjadikan aroma masakan menjadi lebih khas.
Secara umum tantangan umum seperti menurunnya penjualan, terbatasnya aktivitas hingga kebiasaan baru masyarakat mempengaruhi keberlanjutan usahanya. Wanita yang juga hobi travelling ini mengatakan saat terjadi PSBB, bisnisnya harus tutup total.
“Kita tutup total waktu awal pandemi,” katanya dalam bincang kelas kumparan, Sabtu (6/3).
Pada saat itu, Shasya harus memutar otak agar bisnisnya tetap bisa bertahan. Sebab, lahan tempat berjualan harus tetap bayar sewa. Pada saat itu muncul ide untuk membuka kedainya lebih pagi karena pada saat malam hari harus terjadi pembatasan sosial.
“Oke pemerintah tidak boleh berjualan malem, akhirnya kita jual pagi. Akhirnya claypot diisi divisi baru. Kita melihat orang-orang sering keluar pagi, sepedaan lari-lari, dan kesadaran orang hidup sehat naik,” sambungnya.
Selain itu, untuk menarik pelanggan Shasya melakukan promosi melalui sosial media di @ciciclyapot. Media sosial ia jadikan sebagai alat komunikasi dengan pelanggan, termasuk informasi mengenai jam operasional hingga promo-promo tertentu.
Menariknya, Shasya menjelaskan, dalam menjual makanannya ia selalu selipkan cerita. Alasanya sederhana, “Semua orang senang dengan cerita, entah itu beneran atau bohongan yang penting ada ceritanya,” jelasnya.
Ciptakan Menu Baru Setiap Akhir Pekan
Perjalanan bisnisnya tidak berhenti pada pergantian jam operasional, namun ia tak lupa untuk melakukan inovasi menu-menu baru setiap akhir pekan. Varian baru ini bertujuan supaya orang tertarik untuk kembali berkunjung, dan sebagai insight bagi bisnisnya.
“Salah satu strategi kita bikin menu spesial weekend jadi setiap weekend ada menu baru. Sambil tes-tes menu favorit yang nanti bisa dipakai untuk menu reguler,” jelasnya.
Cici Claypot yang baru berusia dua tahun memastikan bahan baku selalu kualitas yang fresh. Menu-menu yang ditawarkan selalu siap, hal ini membuat pelanggan tidak kecewa. Shasya menyebut hal ini merupakan hal yang wajib diperlukan oleh pengusaha kuliner.
“Harus konsisten jangan sampai orang datang ini abis, itu abis. Itu akan mengurangi hasrat orang untuk datang,” terangnya.
Dalam sehari Cici Claypot buka selama empat jam, dari pukul 18.00 wib - 22.00 wib. Pada saat pandemi, Shasya memutuskan untuk membuat produk frozen food. Ia tahu frozen food pada saat itu sangat dicari masyarakat.
“Nah adaptasi waktu pandemi menciptakan menu yang frozen dan bisa dikirim ke luar kota,” ungkapnya.
Untuk mempermudah pemesanan ia menyediakan layanan hotline lewat WhatsApp. Pesan antar online menjadi lebih mudah.
