Siasat Petani Sumenep Agar Tak Merugi saat Bawang Merah Melimpah

Petani bawang merah di sejumlah daerah di Indonesia mengeluhkan kerugian, akibat harga yang anjlok dipicu oleh melimpahnya pasokan. Harga jual bawang merah di tingkat petani, jauh di bawah biaya tanam hingga panen yang sudah dikeluarkan.
Tapi masalah itu tak dialami petani di Sumenep, Madura, salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia. Hal ini terjadi, karena para petani di Sumenep memiliki musim tanam dan panen yang berbeda, dengan sentra-sentra produksi bawang merah lain.
“Pendapatan dari hasil tanam bawang merah di Rubaru ini, minimal empat kali lipat dari modal yang kami keluarkan. Misalnya dengan modal Rp 10 juta, kami bisa dapat hasil Rp 40 juta sampai Rp 50 juta setiap panen," kata Ilyasin, salah seorang petani bawang merah di Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep.
Petani bawang merah Kecamatan Rubaru, seperti dilansir Antara, saat ini tengah bersiap untuk menyemai benih memasuki masa tanam raya Januari-Februari mendatang. Pada masa itu, petani di sentra-sentra produksi bawang merah justru mengurani penanaman, karena musim hujan menjadi musuh tanaman bawang.
Varietas bawang merah yang banyak ditanam petani, adalah Rubaru, sesuai nama daerah tersebut. Varietas ini terbukti tahan hujan dan tidak mudah terserang Fusarium, jenis jamur yang sering menyerang tanaman bawang merah.

Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, produktivitasnya pun bisa mencapai 8-10 ton per hektare. Saat kabupaten lain produksinya turun pada Maret-April, di Sumenep justru terjadi panen raya.
Ilyasin mengaku selama lebih dari 18 tahun menanam bawang merah, lebih banyak meraup untung dibanding mengalami kerugian. “Jual hasil panen juga enggak susah, bahkan saat musim panen raya sekali pun,” ujarnya.
Saat ini, harga bawang merah di berbagai daerah di Indonesia anjlok. Di Solok, Sumatera Barat misalnya, harga jual di ladang hanya Rp 7.000-Rp 8.000 per kg, di bawah ongkos tanam hingga panen yang mencapai Rp 10.000 per kg.
Jatuhnya harga bawang merah juga terjadi di berbagai daerah lain seperti Lhokseumawe, Ambon, dan juga Bantul di Yogyakarta. Kementan mendorong pengaturan pola tanam, untuk mengendalikan pasokan dan harga bawang merah.
