kumparan
31 Agustus 2019 10:34

Siasat PLN Mencegah Listrik Padam di Ibu Kota Baru Indonesia

Ilustrasi Pembangunan Jaringan Listrik di Ibu Kota Baru
Ilustrasi Pembangunan Jaringan Listrik di Ibu Kota Baru. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Dua kabupaten di Kalimantan Timur, yakni Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi ibu kota baru pengganti DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
Ditargetkan mulai 2024, pusat pemerintahan secara bertahap pindah ke ibu kota baru. Infrastrukturnya harus segera dipersiapkan. Dalam rancangan awal yang disusun oleh PLN, ibu kota baru adalah pusat pemerintahan yang merupakan Zero Down Time (ZDT). Artinya, tidak boleh ada pemadaman listrik. Apalagi sampai blackout seperti yang terjadi di separuh Pulau Jawa pada 4 Agustus 2019 lalu.
Karena itu, keandalan jaringan dan pembangkit listrik perlu mendapat perhatian. Saat ini pasokan listrik ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara hanya bergantung pada satu jalur transmisi. Jika terjadi gangguan pada jalur tersebut, sudah pasti mati listrik.
PLTU Teluk Balikpapan
PLTU Teluk Balikpapan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Kemudian soal pembangkit listrik, saat ini 18 persen pasokan untuk wilayah Kaltimra berasal dari PLTU Teluk Balikpapan 2 x 110 MW yang merupakan warisan dari Fast Track Program (FTP) I. Sudah bukan rahasia lagi kalau pembangkit-pembangkit yang berasal dari FTP I punya kekurangan dalam hal kualitas.
ADVERTISEMENT
Lalu salah satu pembangkit yang diandalkan untuk menambah pasokan listrik saat beban puncak di Kaltim, yaitu PLTGU Tanjung Batu yang berkapasitas 220 MW, usianya sudah 22 tahun. Perawatan pembangkit ini tak mudah karena suku cadangnya sudah semakin sulit didapatkan.
Senior Manager Distribusi PLN UIW Kaltimra, Khairullah, menjelaskan bahwa dalam RUPTL sudah dirancang bahwa jaringan transmisi ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara akan dibuat hingga 3 lapis. Ini untuk mencegah terjadinya pemadaman di ibu kota ketika salah satu jaringan transmisi mengalami gangguan.
"Sudah direncanakan triple line sejak sebelum Penajam dan Kukar ditetapkan jadi ibu kota. Ada rencana tambahan transmisi 240 kms," ujarnya saat ditemui di Kantor PLN UIW Kaltimra, Kamis (29/8).
PLTGU Tanjung Batu
PLTGU Tanjung Batu. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Terkait keandalan pembangkit, Khairullah menerangkan bahwa berdasarkan RUPTL 2019-2028, di seluruh Kalimatan akan ada tambahan pembangkit hingga 4.324,8 MW. Jaringan transmisi di seluruh Kalimantan pun akan terhubung.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, listrik untuk ibu kota baru tak akan bergantung pada pembangkit-pembangkit listrik yang sudah tua atau kurang andal. Ada banyak pembangkit baru di seluruh Kalimantan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk ibu kota.
"Di 2024, Sistem Kaltimra sudah terhubung ke Kalbar dan Kaltara. Sudah terintegrasi dengan daya mampu 4.000-an MW. Jadi cukup kuat," ucapnya.
Diakui Khairullah, saat ini di wilayah Kaltim masih ada pemadaman listrik sekitar 60 menit per bulan. Dalam 5 tahun ke depan, pemadaman listrik harus 0 menit. Pihaknya perlu bekerja keras untuk mewujudkan hal itu.
"Di Kaltimra rata-rata padam 60 menit per bulan. Konsep ibu kota baru adalah Zero Down Time. Kita harus antisipasi dengan sistem berlapis-lapis. Kita buat smart grid. Ada desain battery system agar tidak ada kelumpuhan di ibu kota. Tidak boleh padam. Dari instalasi pelanggan sampai pembangkit disiapkan keandalan cadangan," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan