Kumparan Logo

Singapura Akhirnya Setuju Impor Ayam Beku dari Indonesia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peternak mengobral ayam layer produktif bertelur di pinggir jalan Kelurahan Ketami, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (3/10/2021). Foto: Prasetia Fauzani/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Peternak mengobral ayam layer produktif bertelur di pinggir jalan Kelurahan Ketami, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (3/10/2021). Foto: Prasetia Fauzani/Antara Foto

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengumumkan Badan Pangan Singapura atau Singapore Food Agency (SFA) telah menyetujui Indonesia untuk menjadi sumber impor ayam beku dan produk olahan lainnya ke negara mereka.

Persetujuan ini diberikan karena Singapura tengah dilanda kekurangan pasokan ayam karena pesanan dari Malaysia dihentikan sementara waktu. Alasannya, Negeri Jiran juga tengah krisis ayam.

"Alhamdulillah Indonesia telah disetujui sebagai negara pemasok ayam beku dan produk olahannya ke Singapura," ungkap Syahrul dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/7).

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Nasrullah menyampaikan bahwa saat ini komoditi unggas Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Rencana produksi untuk tahun 2022 mencapai 3.884.799 ton untuk daging ayam dan 5.925.386 ton untuk telur.

Menurut Nasrullah, kondisi surplus ini menjadi modal bagi Indonesia untuk mempromosikan produknya ke luar negeri, terutama dengan jaminan Kesehatan hewan dan jaminan pangan sesuai standar Internasional.

“Kami harap ini adalah langkah awal yang baik untuk kerja sama antara Indonesia dan Singapura, terutama Indonesia dapat membantu dalam upaya pemenuhan permintaan produk peternakan bagi seluruh warga Singapura,” ucap Nasrullah.

Sebelumnya SFA telah mengutus Timnya untuk mengunjungi Indonesia guna mengaudit keamanan pangan dan kontrol kesehatan hewan. "Tim dari Singapura telah mengunjungi berbagai fasilitas seperti peternakan, layanan karantina, dan laboratorium untuk lebih memahami sistem regulasi yang ada di Indonesia," ungkap Nasrullah

Peninjauan ini untuk memastikan bahwa sumber tersebut memiliki sistem, proses, dan kemampuan yang diperlukan untuk memasok ayam dan dapat memenuhi standar keamanan pangan, serta kesehatan hewan ke Singapura.

Nasrullah menjelaskan, dalam suratnya yang disampaikan oleh SFA disebutkan, selama proses audit mereka telah memperoleh gambaran tentang manajemen produksi unggas di Indonesia.

Rangkaian proses Audit Country Level ini telah dilaksanakan mulai dari tanggal 20-23 Juni 2022. Lokasi yang dikunjungi oleh Tim Audit merupakan representasi Indonesia terhadap proses pengawasan dari pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal PKH.

Lokasi tersebut meliputi pintu pengeluaran Tanjung Priok sebagai tempat proses karantina. Kemudian Laboratorium Nasional seperti BPMSPH dan Balai Veterine sebagai tempat proses pengujian dan surveillance. Terakhir adalah farm komersil dengan kompartemen bebas AI untuk digunakan sebagai tempat proses produksi

Mentan Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri kegiatan Silaturahmi Peternak dan Kampanye Konsumsi Ayam dan Telur 2021, di IPB Internasional Convention Center, Bogor, Kamis (3/6 Foto: Kementan RI

Proses karantina di pintu pengeluaran Tanjung Priok, proses pengujian dan surveillance di Laboratorium Nasional seperti BPMSPH dan Balai Veteriner, serta jaminan proses produksi di peternakan komersil dengan kompartemen bebas teknologi buatan (AI).

Perusahaan dan peternakan juga telah dievaluasi dan disetujui oleh SFA melalui evaluasi dokumenter terperinci dan audit di tempat untuk verifikasi. Selain itu, proses pengiriman akan menjalani pemeriksaan, pengambilan sampel, dan pengujian SFA pada saat impor.

Selain itu, Nasrullah menyebutkan, Pihak SFA menyampaikan persyaratan importasi mengharuskan inspeksi anti-mortem dan post-mortem (AM/PM) di bawah dokter hewan pemerintah. Untuk memastikan hal ini, Ditjen PKH akan melakukan audit bulanan untuk memeriksa dan melakukan verifikasi laporan bulanan AM/PM hasil pengambilan sampel untuk keamanan dan kualitas produk.

“Saat ini masih ada sekitar 12 unit usaha yang sudah submit untuk dievaluasi oleh SFA dan Insya Allah ekspor akan segera terealisasi,” pungkas Nasrullah.