Kumparan Logo

Singapura Persulit Pembelian Mobil, Ini Syaratnya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kota Singapura yang diselimuti kabut asap. Foto: AFP/ROSLAN RAHMAN
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kota Singapura yang diselimuti kabut asap. Foto: AFP/ROSLAN RAHMAN

Pemerintah Singapura menetapkan kebijakan yang mewajibkan penduduknya harus membayar jaminan $106.000 atau setara dengan Rp 1,2 miliar untuk certificate of entitlement atau COE kepemilikan mobil.

Dilansir dari Reuters, uang senilai $106.000 diperlukan untuk menebus sertifikat tersebut agar dapat memiliki kendaraan roda empat secara legal.

Harga COE $106.000 ini menjadikan Singapura sebagai negara termahal untuk biaya kepemilikan mobil di dunia. Hal ini dikarenakan pemulihan pascapandemi telah meningkatkan biaya sistem kuota kendaraan di negara tersebut.

Singapura memang memiliki sistem COE sejak tahun 1990. Dengan demikian, warga Singapura harus menebus sertifikat seharga empat Toyota Camry Hybrid di Amerika Serikat jika ingin memiliki mobil.

instagram embed

Sistem ini ditujukan untuk mengendalikan jumlah kendaraan di negara tersebut. Terlebih, Singapura kini menjadi rumah bagi 5,6 juta orang dengan wilayah yang hanya seluas 728,6 km2.

Kuota jumlah kendaraan di Singapura ditawarkan melalui proses penawaran. Jumlah kuota COE baru yang tersedia bergantung pada berapa banyak mobil lama yang dicabut pendaftarannya.

Kendati demikian, harga COE sempat turun pada tahun 2020, ketika jalanan lengang akibat pandemi Covid-19, menjadi sekitar S$30.000.

Kenaikan harga COE tahun ini disebabkan peningkatan aktivitas ekonomi pasca-COVID, yang menyebabkan lebih banyak pembelian mobil, sementara jumlah total kendaraan di jalan dibatasi sekitar 950.000 kendaraan.

Mobil yang melintas di jalan-jalan Singapura. Foto: Alexander-S/Shutterstock

Melonjaknya harga mobil ini membuat mobil jauh dari jangkauan sebagian besar masyarakat kelas menengah Singapura.

Bahkan sosiolog Tan Ern Ser membuat istilah “Impian Singapura” yang hanya dapat digapai oleh kalangan sosial ke atas yaitu memiliki uang tunai, kondominium, dan mobil.

Hal ini dikarenakan gaji rata-rata rumah tangga tahunan di Singapura adalah S$ 121,188.

Warga Singapura terpukul oleh inflasi yang terus-menerus dan perlambatan ekonomi, sehingga banyak yang kemudian menjual mobil mereka ketika harga COE sedang rendah untuk mendapatkan keuntungan.

"Ada kebutuhan untuk menurunkan aspirasi seseorang dari mencapai ‘kehidupan yang baik’ menjadi ‘kehidupan yang cukup baik’," kata Tan dikutip dari Reuters pada Kamis (5/10).