Kumparan Logo

Singgung AS, Bahlil Sebut Upaya Transisi Energi Global Mulai Luntur

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai menjadi pembicara pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Jumat (10/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai menjadi pembicara pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Jumat (10/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menilai semangat mengurangi emisi karbon melalui transisi energi di seluruh dunia mulai meluntur.

Ia mengatakan dinamika konflik geopolitik dan geoekonomi yang terus memanas saat ini merebut perhatian para negara dari komitmen pencegahan perubahan iklim, salah satunya yang tercantum dalam Perjanjian Paris.

"Di saat bersamaan banyak inkonsistensi negara-negara dalam menjaga komitmen khususnya Paris Agreement tentang penurunan emisi dan transisi energi," ungkap Bahlil saat Indonesia International Sustainability Forum 2025, Jumat (10/10).

Menurutnya, negara yang sebelumnya menginisiasi peta jalan Paris Agreement sudah menurun atensinya, bahkan tidak lagi bersemangat melaksanakan upaya transisi energi.

"Beberapa negara yang menginisiasi untuk membuat roadmap dunia menurunkan emisi dan kita memakai energi baru terbarukan, mulai sekarang rasanya ada yang semangat, tapi ada juga semangatnya sudah mulai luntur. Karena mereka tahu betul tentang keunggulan komparatif daripada masing-masing negaranya," tegas Bahlil.

Bahlil menyinggung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang dalam pidato Sidang Majelis Umum ke-80 PBB lalu cenderung menganggap remeh isu perubahan iklim. Padahal, AS merupakan salah satu negara yang menginisiasi Paris Agreement.

"Bahkan Amerika yang salah satu negara menginisiasi untuk Paris Agreement itu mulai keluar, kemarin kalau kita melihat Presiden Amerika di pidatonya di PBB, ya agak ragu juga saya terkait dengan kelanjutan daripada transisi energi," tutur Bahlil.

Meski begitu, Bahlil memastikan Indonesia masih berkomitmen terhadap isu transisi energi. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto akan konsisten untuk melanjutkan tentang transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).

Dia menyebutkan, Indonesia salah satu negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam EBT yang tidak kalah dengan negara lain. Contohnya, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia setelah AS.

"Target kami 2027, kami akan menghasilkan kurang lebih sekitar 500 MW daripada panas bumi, ke depan penambahannya," kata Bahlil.

Dalam pemakaian energi sampai 2025, Bahlil mencatat porsi pembangkit EBT sudah mencapai 14-15 persen dari total listrik yang diproduksi sebesar 100 GW di Indonesia. Kemudian dalam RUPTL 2025-2034, target penambahan pembangkit EBT mencapai 69,5 GW.

Kendati begitu, Bahlil menilai salah satu tantangan terbesar bagi pengembangan EBT adalah dari sisi jaringan transmisi dan harganya yang lebih mahal dari batu bara. Untuk itu, pemerintah akan membangun kurang lebih 47.000 kms transmisi hijau.

"Jadi kita diperhadapkan pada sebuah pilihan, di satu sisi energi bersih adalah kebutuhan dan konsensus global, tapi secara ekonomi batu bara lebih murah," tutur Bahlil.

video from internal kumparan