Sistem Interkoneksi Sumatera-Bangka Beroperasi, PLN Kurangi Pembangkit BBM

29 Maret 2022 11:18
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Sistem Interkoneksi Sumatera-Bangka Beroperasi, PLN Kurangi Pembangkit BBM (197858)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN Wiluyo Kusdwiharto, pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT PLN (Persero) dan perusahaan listrik Malaysia, Tenaga Nasional Berhad (TNB) di Kantor Pusat TNB, Kuala Lumpur, Rabu (25/9/2019). Foto: Dok. PLN
ADVERTISEMENT
PT PLN (Persero) resmi mengoperasikan infrastruktur kelistrikan Sistem Interkoneksi 150 kV Sumatera-Bangka melalui kabel listrik bawah laut. Pertumbuhan konsumsi listrik di Pulau Bangka dapat terpenuhi karena daya listrik dapat dialirkan dari sistem kelistrikan Sumatera.
ADVERTISEMENT
"Proses interkoneksi sistem kelistrikan Bangka dan sistem kelistrikan Sumatera dilakukan pada 26 Maret 2022 pukul 15.04 WIB sinkron di GI 150 kV Muntok Bangka," kata Direktur Mega Proyek dan EBT PLN, Wiluyo Kusdwiharto, melalui keterangan resmi, Selasa (29/3).
Menurut Wiluyo, dengan beroperasinya kabel bawah laut tersebut, ke depan transfer energi dari Sumatera ke Pulau Bangka dapat dilakukan untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi listrik dan meningkatkan mutu pelayanan PLN kepada pelanggannya.
Pada tahun 2022, terdapat potensi penambahan sebanyak 20.653 pelanggan dengan potensi daya tersambung 74,65 MVA, dengan GWh Jual 1.381,45 GWh.
Sebelumnya, jelas Wiluyo, listrik Pulau Bangka disuplai dari beberapa pembangkit yang didominasi berbahan bakar minyak (BBM) dengan beban puncak sebesar 190,2 MW.
ADVERTISEMENT
Saat itu, sistem listrik Bangka tercatat nyaris menyentuh ambang batas daya mampu sebesar 191,5 MW, sehingga total cadangan daya hanya tersisa sebesar 1,3 MW. Dengan adanya interkoneksi ini, cadangan daya di pulau bangka meningkat menjadi 281 MW dan akan meningkat secara bertahap.
Dia menuturkan, dengan rata-rata pertumbuhan penjualan tenaga listrik dalam 3 tahun terakhir sebesar 8,52 persen, pulau Bangka menjadi salah satu daerah dengan tingkat pertumbuhan tenaga listrik yang cukup tinggi di Indonesia, lantaran menggeliatnya industri perikanan, pengolahan sawit, pasir kuarsa, smelter timah, dan pariwisata.
Proses pembangunan sistem interkoneksi kabel listrik bawah laut Sumatera – Bangka
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sistem Interkoneksi Sumatera-Bangka Beroperasi, PLN Kurangi Pembangkit BBM (197859)
zoom-in-whitePerbesar
Pemasangan Kabel Listrik Bawah Laut ke 3 Gili di Lombok. Foto: dok. PLN
Proses pembangunan sistem interkoneksi kabel listrik bawah laut Sumatera – Bangka memiliki tingkat kompleksitas yang variatif dalam setiap tahapan, mulai dari survei lokasi, proses perizinan, penyediaan lahan dan ruang bebas sebelum akhirnya masuk pada fase konstruksi yang secara garis besar terbagi menjadi 3 section utama.
ADVERTISEMENT
Kata Wiluyo, Section 1 merupakan pembangunan Landing Point Tanjung Carat dan Transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV serta Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 150 kV sepanjang 20 kilometer yang terletak di pulau Sumatera.
Lalu, Section 2 berupa pekerjaan penggelaran kabel laut sepanjang 36 kilometer yang terbentang menghubungkan pulau Sumatera dan pulau Bangka. Section_3 yaitu pembangunan Landing Point Muntok dan Transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV sepanjang 9,16 kilometer di sisi Pulau Bangka.
Dia melanjutkan, interkoneksi Sumatera - Bangka ini menjadi salah satu sistem kelistrikan dengan kabel laut terpanjang di Indonesia dan merupakan salah satu pembangunan transmisi ketenagalistrikan dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
Proses pembangunan SUTT 150 kV, SKTT 150 kV dan Landing Point berada pada area berkontur ekstrem berupa rawa, tanah berlumpur dan rawan predator sungai, sehingga pengerjaannya membutuhkan keahlian dan metode khusus. Contohnya, mobilisasi peralatan dan material harus ditempuh menggunakan kapal kecil dan sangat bergantung dengan kondisi pasang surut air laut.
ADVERTISEMENT
“Pembangunan ini merupakan wujud komitmen PLN dalam menghadirkan energi listrik yang bersih dan berwawasan lingkungan untuk menjawab tantangan zaman dalam memberikan layanan kelistrikan yang andal, berkesinambungan dan ramah lingkungan bagi masyarakat,” ujar Wiluyo.
Beroperasinya sistem interkoneksi Sumatera – Bangka turut berkontribusi mewujudkan target karbon netral di 2060. Beberapa pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak, seperti beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas total 83 MW akan dinonaktifkan dan hanya digunakan sebagai back up sistem.
Jelas Wiluyo, sistem interkoneksi ini berpotensi memberikan penghematan biaya pokok produksi sebesar Rp 795 /kWh atau 1,03 triliun per tahun dan pengurangan pemakaian BBM B0 sebesar 91,98 juta liter/tahun dan B30 sebesar 137,29 juta liter/tahun.