Sistem Resi Gudang Buka Kesempatan Petani & Nelayan Ekspor Komoditas
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Didid Noordiatmoko, menyebutkan Sistem Resi Gudang (SRG) dapat menguntungkan pelaku usaha sejumlah sektor, terutama petani. Karena pada masa panen, beberapa harga komoditas bisa menurun jika langsung dijual begitu saja.
“Jika begitu, petani tidak menerima keuntungan. Supaya dia memperoleh harga yang bisa stabil maka ketika panen barangnya banyak, nah dengan SRG kita taruh hasil panen di gudang. Nanti petani bisa menunda penjualannya, tapi dia bisa langsung dapat uang sehabis (panen),” pungkas Didid dalam konferensi pers Perkembangan Isu Strategis Bappebti di Jakarta, Kamis (3/8).
Selain itu, Didid mengatakan SRG memungkinkan petani untuk melakukan ekspor beberapa komoditas. Salah satu produk yang sedang populer adalah telur ikan terbang dan rumput laut yang populer di Jepang dan China.
“Jadi nelayan katakanlah memperoleh telur ikan terbang atau tadi rumput laut, itu kemudian dimasukkan gudang langsung. Diserahkan kepada perusahaan agregator, pengumpulnya. Kemudian barang-barang ini nantinya diekspor,” jelasnya.
Saat ini SRG terus dikembangkan untuk kebutuhan hulu maupun hilir komoditas. Menurutnya, program ini dapat semakin mensejahterakan pelaku usaha kecil dengan membuka kesempatan mereka mengekspor hasil panen.
Adapun saat ini ada 22 jenis komoditas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang yaitu: gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut, rotan, garam, gambir, teh, kopra, timah, bawang merah, ikan, pala, ayam karkas beku, gula kristal putih, kedelai, tembakau, dan kayu manis.
