Kumparan Logo

SKK Migas: Target Lifting Minyak di APBN 2024 Sulitnya Luar Biasa

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Area pengeboran migas PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI). Foto: Dok. PHI
zoom-in-whitePerbesar
Area pengeboran migas PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI). Foto: Dok. PHI

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan target lifting minyak dalam APBN 2024 sebesar 635 ribu barel per hari (bopd) sangat sulit tercapai.

Wakil Kepala SKK Migas, Nanang Abdul Manaf, menyebutkan rencana kerja atau work, program, and budget (WP&B) lifting minyak di tahun 2024 yang disetujui oleh para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) hanya sebesar 596 ribu bopd.

Dengan demikian, lanjut Nanang, ada selisih alias gap yang cukup besar antara target APBN dan rencana kerja operator yang harus menggencarkan penemuan baru, terutama di hulu minyak.

"Ini harus mencari tambahan baru, filling the gap, bagaimana kita bisa usahakan untuk bisa mencapai target APBN ini yang sulitnya luar biasa, kalau kita lihat sangat-sangat challenging," ungkapnya saat DETalk, Jumat (16/2).

Tahun lalu, realisasi lifting minyak tercapai 605,5 ribu bopd. Realisasi tersebut tidak mencapai target APBN 2023 sebesar 660 bopd alias hanya 92 persen, dan tidak mencapai target WP&B sebesar 621 bopd atau 98 persen.

Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf usai acara IPA Convex ke-47 di ICE BSD, Kamis (27/7/2023). Foto: Fariza/kumparan

Nanang mengakui, target APBN maupun WP&B di 2024 memang masih jauh dari rencana jangka panjang atau long term plan (LTP) hulu migas Indonesia yakni 1 juta bopd di tahun 2030.

"Walaupun di APBN tetap kita menempatkan angka 635 ribu bopd, tentu saja ini adalah usaha luar biasa yang harus kita capai dan kelihatannya masih ada gap antara LTP kita dengan realisasi," tuturnya.

"Ini memang bukan hal yang mudah untuk bisa mencapai, karena kita sampai dengan sekarang belum bisa menemukan lapangan terutama minyak sekelas Banyu Urip," imbuh Nanang.

Sementara itu, Nanang menilai Indonesia masih jauh lebih baik dalam lifting gas. Selisih antara LTP gas yaitu 12 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd) dengan realisasi saat ini semakin mengecil.

Premier Oil temukan minyak di Blok Andaman II yang berlokasi di lepas pantai Aceh. Foto: Dok. SKK Migas

Terlebih dengan berbagai pengembangan proyek raksasa, seperti Blok Andaman, Blok Masela, Geng North, dan Asap Kido Merah, Nanang optimistis LTP tersebut akan tercapai di tahun 2030.

"Mudah-mudahan dari Andaman dalam beberapa tahun ke depan juga ada pengembangan, sehingga relatif LTP gas untuk beberapa waktu ke depan, bahkan di tahun 2030 harapannya bisa dicapai,"

Adapun realisasi lifting gas di tahun 2023 ada peningkatan (incline) 1,2 persen dari realisasi tahun 2022, menjadi 5.378 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd)

"Sehingga kalau digabung oil and gas di tahun 2022 dan 2023 sebenarnya tetap, memang turun di minyak, tapi naik di gas," kata Nanang.

Tahun ini, Nanang menyebutkan target WP&B lifting gas yang disepakati KKKS sebesar 5,544 mmscfd, lebih rendah dari target APBN 2024 sebesar 5.785 mmscfd.

"Jadi masih ada sekitar 0,3 bscf. Ini target filling the gap harus diisi kalau kita ingin mencapai target WP&B," terang Nanang.

Beberapa program yang ditargetkan dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi migas di tahun 2024 yakni pengeboran 990 sumur, 906 kegiatan workover, dan well service sebanyak 35.690 kegiatan.

instagram embed