SmartConstruction Komatsu Keren, Tapi Belum Cocok untuk Indonesia

Komatsu, perusahaan alat berat Jepang, mengembangkan alat beratnya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Dengan cara ini, pengoperasian alat berat bisa lebih efisien, cepat, dan terukur. Sayangnya, alat berat yang diberi julukan SmartConstruction ini belum cocok digunakan di Indonesia.
Sejumlah pemimpin redaksi dari Indonesia diundang United Tractor (UT), salah satu anak perusahaan Astra International, ke kantor IoT (Internet of Things) Komatsu di kota Chiba, Jepang, Jumat (25/10) lalu. Untuk menuju lokasi ini, perlu sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan bus dari Tokyo. Di tempat inilah, Komatsu mengembangkan teknologi canggih dan digitalisasi dalam membangun alat-alat beratnya.
Para pemimpin redaksi mendapat pemaparan singkat tentang SmartConstruction dari perwakilan Komatsu. Mereka juga diperlihatkan bagaimana SmartCounstruction bekerja. UT membawa para pemimpin redaksi ke IoT Komatsu, karena UT merupakan satu-satunya distributor Komatsu di Indonesia. Saat ini UT adalah perusahaan terbesar dalam penjualan dan penyewaan alat-alat berat di Indonesia. UT juga memiliki kontribusi pendapatan paling besar untuk Astra International, yaitu sekitar 30 persen.
SmartConstruction ini memasang banyak sensor di alat berat Komatsu, seperti ekskavator dan buldoser, yang terhubung dengan platform digital. Kemudian juga memanfaatkan drone untuk survei dan pemetaan lahan, serta untuk mengontrol hasil pekerjaan. SmartConstruction tidak dibuat 100 persen otomatis, hanya semi otomatis karena masih menggunakan operator di lapangan.
Dalam pengerjaan konstruksi lahan, biasanya ada 4 tahapan yang harus dilalui. Secara berurutan, tahapan itu adalah: survei dan pemetaan lahan, perencanaan desain konstruksi, pelaksanaan konstruksi, dan pengawasan pengerjaan. Bila menggunakan alat berat konvensional, empat tahap pengerjaan itu dilakukan secara manual. Hasil gambar yang digunakan sebagai perencanaan konstruksi juga hanya 2 dimensi (2G). Pengerjaan juga butuh waktu yang lebih lama.
Sementara dengan menggunakan SmartConstruction, gambar hasil pemetaan hingga selesai konstruksi berbentuk 3 dimensi (3D) digital. Pengerjaan konstruksi juga pasti lebih cepat dan terukur.
Secara singkat cara kerja SmartConstruction bisa digambarkan sebagai berikut:
1. Drone diterbangkan di atas lahan yang akan dikonstruksi. Drone digunakan untuk melakukan survei dan pemetaan lahan. Hasil survei dan pemetaan berbentuk gambar 3 D digital.
2. Hasil gambar 3D digital drone digunakan untuk membuat simulasi perencanaan konstruksi dalam 3D digital juga. Simulasi perencanaan ini bisa memperjelas mana lahan yang dikontruksi, berapa kemiringan tanah yang diinginkan, berapa jumlah tanah yang harus diambil, berapa ekskavator dan truk yang dikerahkan, berapa lama estimasi pengerjaan, dan sebagainya.
3. Pengerjaan konstruksi dengan menggunakan alat berat yang sudah dipasang sensor yang dihubungkan dengan platform digital. Alat-alat berat tetap dikendalikan operator, tapi pengerjaan dilakukan secara otomatis sesuai rencana yang telah disusun.
4. Setelah pengerjaan selesai, drone diterbangkan kembali untuk mengecek apakah pengerjaan konstruksi sudah sesuai atau belum. Hasil pengecekan drone dibuat dalam bentuk 3D digital.
Direktur Marketing UT, Loudy Irwanto Ellias menjelaskan, SmartConstruction memang dikembangkan untuk digunakan dalam pembangunan konstruksi atau proses di pertambangan di Jepang. Mengapa? Karena saat ini sulit sekali mencari anak muda di Jepang yang mau bekerja di lapangan.
“Jadi, SmartConstruction didevelop untuk mengantisipasi hal ini,” kata Loudy dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (9/11).
Di Indonesia, kata Loudy, SmartConstruction ini belum cocok digunakan, meski sebenarnya bisa lebih efisien dibanding mengggunakan alat berat konvensional.
“Ini leboh cocok di Jepang, karena mengalami kesulitan tenaga kerja. Sementara di Indonesia, sangat banyak tenaga kerja,” ujar dia.
Karena itu, lanjut Loudy, UT belum membawa Komatsu SmartConstruction ini ke Indonesia untuk dikomersialkan. Namun, sebenarnya ujicoba sudah dilakukan.
