Kumparan Logo

SMF Terbitkan Surat Utang Rp 1,6 Triliun, Imbal Hasil 6,95 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur utama SMF Ananta Wiyogo Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur utama SMF Ananta Wiyogo Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF kembali menerbitkan surat utang senilai Rp 1,6 triliun dengan tenor 5 tahun. Penerbitan dilakukan dua bulan lalu dengan imbal hasil (kupon) 6,95 persen.

Namun tantangan langsung muncul, yakni yield harus bersaing dengan instrumen lain milik negara seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Surat utang yang barusan kita keluarkan itu Rp 1,6 triliun untuk (tenor) 5 tahun, itu di market sekarang barusan dua bulan yang lalu itu 6,95 persen (kupon),” kata Direktur Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, Rabu (23/7).

Angka itu memang tergolong kompetitif, namun menurut Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, kondisi pasar membuat surat utang SMF bersaing ketat dengan instrumen negara yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Ya 6,95 persen itu pasti kan bapak bersaing dengan SRBI, bersaing dengan SBN, mereka 7 persen, SBN 7,2 persen sekarang yang 10 tahun,” ujar Misbakhun.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Hingga semester I-2025, total aset perusahaan telah mencapai Rp 56 triliun atau mendekati target akhir tahun senilai Rp 59 triliun. Liabilitas mencapai Rp 35,3 triliun, sedangkan ekuitas menyentuh Rp 20,7 triliun.

Dari sisi laba, SMF mengantongi Rp 292 miliar hingga pertengahan tahun ini. Meski masih di bawah target tahunan Rp 512 miliar, perusahaan tetap menunjukkan efisiensi operasional dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross hanya 0,0033 persen.

Rating perusahaan pun tak main-main. SMF mengantongi peringkat AAA dari lembaga pemeringkat lokal dan BBB Stable dari Standard & Poor’s, setara dengan peringkat utang pemerintah Indonesia.

“Kalau kita lihat perusahaan semacam SMF itu di Indonesia memang hanya ada satu, dan kita di sekunder. Jadi kita tidak bisa di-compare dengan perusahaan finansial kayak multifinance yang di primer,” kata Ananta.

instagram embed