Kumparan Logo

SPBU Swasta Kini Beli Bahan Baku BBM dari Pertamina, Ini 4 Poin Kesepakatannya

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers bersama Shell, VIVO, dan BP-AKR, soal masih kosongnya stok SPBU swasta di Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025). Foto: Dok. Kementerian ESDM
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers bersama Shell, VIVO, dan BP-AKR, soal masih kosongnya stok SPBU swasta di Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025). Foto: Dok. Kementerian ESDM

Empat badan usaha SPBU swasta, yakni Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo, dan ExxonMobil, akhirnya sepakat untuk membeli tambahan pasokan BBM dari PT Pertamina (Persero).

Hal ini diputuskan saat rapat bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, Jumat (19/9). Setidaknya terdapat 4 kesepakatan antara pemerintah, Pertamina, dan badan usaha swasta.

Bahlil mengatakan, kesepakatan pertama adalah seluruh badan usaha setuju menambah pasokan melalui pembelian BBM murni (base fuel) dari Pertamina.

"Mereka setuju untuk kolaborasi dengan Pertamina, syaratnya adalah harus berbasis base fuel, artinya belum bercampur-campur. Jadi produknya saja nanti dicampur di masing-masing, tangki di SPBU masing-masing. Ini juga sudah disetujui, ini solusi," kata Bahlil saat konferensi pers usai rapat dengan badan usaha swasta, Jumat (19/9).

Kesepakatan kedua, lanjut Bahlil, yakni melakukan joint surveyor untuk memastikan kualitas BBM yang diimpor tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing badan usaha.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers bersama Shell, VIVO, dan BP-AKR, soal masih kosongnya stok SPBU swasta di Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025). Foto: Dok. Kementerian ESDM

"Menyangkut kualitas, juga disepakatkan untuk melakukan dengan joint surveyor. Jadi barang belum berangkat, ada surveyor yang sama-sama disetujui di sana," jelasnya.

Kemudian kesepakatan ketiga yakni terkait dengan harga BBM. Bahlil memastikan harganya berkeadilan dan merujuk kepada harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), dengan begitu harga BBM swasta dipastikan tidak ada kenaikan alias stabil.

"Pemerintah ingin, sekalipun Pertamina yang diberikan tugas, tetapi kita juga ingin harus fair. Enggak boleh ada yang dirugikan. Kita ingin swasta maupun Pertamina harus sama-sama cengli," tegas Bahlil.

Terakhir, yakni proses importasi mulai dibahas pada rapat tersebut, agar pasokan BBM yang diperlukan bisa datang ke Indonesia dalam sepekan ke depan.

"Mulai hari ini, sudah dibicarakan. Nanti harus dilanjutkan dengan rapat teknis, stoknya, dan kemudian Insyaallah pada lambat 7 hari, barang boleh bisa masuk di Indonesia," ujar Bahlil.

Swasta Butuh 571 Ribu Kiloliter BBM

Suasana Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap di Jawa Tengah, Rabu (27/8/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Tambahan pasokan diperlukan lantaran total kuota impor BBM untuk badan usaha swasta pada tahun ini sudah habis, meskipun sudah ditambah 10 persen dari total kuota impor yang ditetapkan pada tahun 2024, karena lonjakan permintaan.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, tren pangsa pasar BBM nonsubsidi di SPBU swasta terus mengalami peningkatan, yakni naik 11 persen pada 2024 dan mencapai sekitar 15 persen hingga bulan Juli 2025.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34 persen atau sekitar 7,52 juta kiloliter. Angka tersebut cukup untuk memenuhi tambahan alokasi bagi SPBU swasta hingga Desember 2025 sebesar 571.748 kiloliter.

Adapun pengaturan impor BBM dimaksudkan untuk mengendalikan porsinya agar sejalan dengan kondisi perdagangan nasional dan menjaga cadangan strategis nasional.

Kebijakan ini mengacu pada Pasal 14 ayat (1) Perpres Nomor 61 Tahun 2024 tentang Neraca Komoditas. Aturan tersebut memberikan kewenangan kepada Menteri atau Kepala Lembaga sebagai pembina sektor untuk menetapkan rencana kebutuhan komoditas.

instagram embed