Kumparan Logo

Sri Mulyani Beri Sinyal Resesi, Sandi Sebut Pemerintah Gagal Selamatkan Ekonomi

kumparanBISNISverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
Sandiaga Uno menunjukkan buku #kamioposisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sandiaga Uno menunjukkan buku #kamioposisi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan Indonesia akan mengalami resesi tahun ini. Ekonomi di kuartal III diperkirakan minus hingga 2,9 persen, melanjutkan kontraksi di kuartal sebelumnya yang sebesar minus 5,32 persen.

Hal tersebut pun direspons pengusaha nasional Sandiaga Uno. Dia menyebut, pemerintah gagal menyelamatkan UMKM maupun ekonomi secara keseluruhan di masa pandemi ini.

“Jika dilihat dari aspek kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi nasional, khususnya UMKM, nampaknya jauh dari harapan. Tim ekonomi pemerintah telah gagal membangun rumusan kebijakan stimulus fiskal untuk menyelamatkan UMKM dan ekonomi, faktanya daya beli terus menurun,” ujar Sandi dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Menurut Sandi, kebijakan fiskal untuk sektor UMKM juga belum terserap secara maksimal. Realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional untuk UMKM juga baru mencapai Rp 58,74 triliun atau 47,5 persen dari pagu anggaran Rp 123,46 triliun per 16 September 2020.

Meski demikian, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu berharap bantuan presiden (banpres) untuk pelaku UMKM bisa kembali mendorong sektor usaha tersebut kembali bangkit.

Warga beraktivitas di rumahnya berlatar belakang hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Menurut Sandi, pelaku UMKM saat ini masih harus mengaplikasikan mode bertahan agar bisnisnya tetap berjalan. Meskipun, tak ada satu pihak pun yang dapat memastikan sampai kapan hal tersebut bisa dilakukan.

“Sebab tidak seorang pun tahu kapan krisis ini akan berlalu. Bahkan, apa yang kita sebut normal di masa pra-pandemi harus mengalami pendefinisian ulang,” katanya.

Sandi menyebut, salah satu cara agar bisnis tetap bertahan di era pandemi saat ini adalah dengan mengutamakan aspek kesehatan dan digitalisasi. Digitalisasi bisa dilakukan mulai dari pemesanan, pembayaran, produksi, hingga penyediaan barang.

“Zaman sekarang data dan tren bisnis bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita tinggal mengamati, meniru, dan memodifikasi tren yang ada sehingga kita memiliki model bisnis baru,” lanjutnya.

Sebelumnya, Sri Mulyani memperkirakan perekonomian di kuartal III ini minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Sebelumnya, ia memperkirakan kuartal III minus 2,1 persen hingga positif 0 persen. Sehingga kemungkinan terjadinya resesi di tahun ini semakin nyata.

Secara keseluruhan tahun ini, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memproyeksi perekonomian Indonesia mencapai minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Sebelumnya, ia masih memperkirakan ekonomi di tahun ini tumbuh minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

"Kemenkeu melakukan revisi forecast September ini, yang sebelumnya tahun ini minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen, forecast terbaru kita untuk 2020 pada kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers online APBN KiTa, Selasa (22/9).

***

Saksikan video menarik di bawah ini: