Kumparan Logo

Sri Mulyani: Bukan Rupiah yang Melemah, Tapi Dolar AS Menguat

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers Devisa Hasil Ekspor di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (28/7/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers Devisa Hasil Ekspor di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (28/7/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pergerakan rupiah masih cukup baik. Menurutnya, pelemahan kurs saat ini karena dolar AS yang terlalu menguat.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.18 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp 15.870 per dolar AS atau melemah 21,00 poin (0,13 persen). Sejak awal tahun hingga saat ini (year to date/ytd), rupiah melemah 0,7 persen terhadap dolar AS.

"Kalau kita lihat pergerakan ytd, depresiasi (rupiah terhadap dolar AS) 0,7 persen. Jadi penyebabnya bukan rupiahnya, tapi dolar yang menguat. Dolar dengan interest rate tinggi mengalami kenaikan 2,7 persen," ujar Sri Mulyani saat konferensi pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/10).

Menkeu menjelaskan, dolar AS juga menguat dari beberapa mata uang lainnya, seperti baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, hingga won Korea Selatan. "Dalam hal ini Indonesia mengalami depresiasi ytd 0,7 persen adalah juga karena dolar cukup sangat kuat," jelas dia.

instagram embed

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, penguatan dolar AS terjadi karena kondisi AS yang juga bergejolak, mulai dari belum adanya pimpinan Kongres, kondisi perekonomian China yang melambat, perang Hamas-Israel, hingga kondisi ekonomi global yang diperkirakan mengalami penurunan.

Bank Sentral AS, The Fed, juga mempertahankan suku bunga acuan tinggi, yakni di level 5,25-5,50 persen per September 2023. Padahal sejak tahun 2007, suku bunga AS berada di kisaran 0-0,25 persen.

Bahkan di bulan ini, The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya. Hal inilah yang membuat investor global kembali memegang surat berharga AS atau US Treasury, karena imbal hasilnya melonjak tinggi.

"Ini lonjakan yang sangat besar, juga kita lihat bukan hanya levelnya tinggi, tingkah laku yield tidak predictable sangat volatile. Ini menyebabkan gejolak tidak hanya Amerika, tapi seluruh dunia karena banyak negara, banyak investor membeli surat berharga negara Amerika," pungkasnya.