Kumparan Logo

Sri Mulyani: Kemiskinan Turun ke Single Digit, Terendah Sejak Merdeka

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dialog Ekonomi “Prospek Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2019” oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Rabu (13/3). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dialog Ekonomi “Prospek Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2019” oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Rabu (13/3). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membanggakan perolehan angka kemiskinan Indonesia yang terendah sepanjang sejarah.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara di acara Dialog Kebijakan Fiskal, Moneter, dan Investasi 2019-2014 di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

"Kemiskinan menurun untuk pertama kalinya single digit, first time in the history. Sejak kita merdeka pertama kalinya ini," katanya, Rabu (13/3).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angka kemiskinan Indonesia pada September 2018 memang turun menjadi 9,66 persen, dibanding Maret 2018 sebesar 9,82 persen. Angka itu juga lebih rendah dibandingkan September 2017 lalu yang mencapai 10,12 persen.

Sri Mulyani menerangkan, kondisi ekonomi yang terjadi saat ini tak lepas dari pergolakan sulit di masa lampau. Yaitu, krisis keuangan tahun 1998, hingga kemudian bisa bangkit.

Ia mengklaim, tak banyak negara yang segera mampu pulih dari keterpurukan, seperti halnya Indonesia.

"Indonesia termasuk pulih meski tidak paling cepat. Karena dibandingkan Korea Selatan dan Thailand, kita termasuk agak lambat pemulihan ekonominya," ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Suasana Dialog Ekonomi “Prospek Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2019” oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Rabu (13/3). Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Saat krisis ekonomi itu, Sri Mulyani mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan tumbuh negatif sebesar 13 persen. Namun sekarang, selama beberapa tahun ini Indonesia sudah mampu stabil tumbuh positif di angka 5 persen.

"Meski masih ada beberapa episode yang bikin shock yakni oil boom dan Indonesia kena. Dampak itu relatif, bisa negatif bisa positif, dan ada juga penurunan tajam harga komoditas, kita kena," papar dia.

Lantas, apa langkah Sri Mulyani selanjutnya?

Sri Mulyani menekankan, mengelola perekonomian ke depan membutuhkan upaya secara komprehensif. Ia mengumpamakan, tidak seperti sedang mencampurkan reaktan dalam laboratorium, yang asal comot dan ada hasilnya.

"Kita constantly hadapi situasi dinamis di luar dan dalam, dan situasi bisa positif dan negatif. Ini bukan manajamen konstan. Flexibilty, agility penting untuk hadapi, situasi berubah cepat," kata dia.

Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS / Tarmizy Harva

Komoditas baginya masih akan bersifat volatile. Maka dari itu, pihaknya mengatakan bakal mengoptimalkan peluang mulai dari sektor teknologi hingga berbagai isu yang melingkupinya.

"Dunia hadapi ancaman climate change (perubahan iklim). Ini berbagai faktor yang harus kita masukkan dalam desain policy terutama kebijakan fiskal," imbuh dia.

Lebih lanjut, ia menegaskan 3 hal kunci yang tak bisa diabaikan. Di antaranya, infrastuktur, SDM dan institusi. Namun, yang bakal jadi fokusnya tahun ini ialah investasi pada pembangunan kualitas manusia.

"Kenapa invest di human capital? Indonesia sudah mencapai maximum capacity. Kapasitas tumbuh bisa terjadi apabila upgrading kemampuan produksi, maka infrastuktur dibangun dan teknologi inovasi meningkat. (Itu) Prasyarat negara high income country," pungkasnya.